Senin, 15 Agustus 2016

Ngoc Son Temple di danau Hoan Kiem

Wikipedia: .....According to the legend, in early 1428, Emperor Lê Lợi was boating on the lake when a Golden Turtle God (Kim Qui) surfaced and asked for his magic sword, Heaven's Will. Lợi concluded that Kim Qui had come to reclaim the sword that its master, a local God, the Dragon King (Long Vương) had given Lợi some time earlier, during his revolt against Ming China. Later, Lợi gave the sword back to the turtle after he finished fighting off the Chinese. Lợi renamed the lake to commemorate this event, from its former name Luc Thuy meaning "Green Water". The Turtle Tower (Thap Rùa) standing on a small island near the centre of lake is linked to the legend.

Dengan menggunakan Google Map, maka posisi Ngoc Son Temple ditepi Hoan kiem Lake adalah
Apabila kita bermalam di Old Quarter maka danau ini merupakan bagian dari area tersebut. Saat sore kalau cuaca bagus (kebetulan saat saya berkunjung, cuaca sore sangat bagus meskipun mulai pagi sampai siang berkabut dan gerimis) maka sekeliling danau ini akan penuh dengan orang jalan-jalan atau duduk-duduk.
Hati-hati dengan tas, saat saya berkeliling danau bersama anak saya, hampir saja isi tas anak saya terkuras habis oleh tipu daya dua orang pemuda yang menawarkan wisata ke Halong Bay. Restorant chef terkenal dari Vietnam yang sering muncul di TV kabel juga ada didekat danau ini.
 Ngoc Son Temple dihubungkan dengan sebuah jembatan merah yang indah antara tepi danau dengan pulau kecil dimana Ngoc Son berdiri.



 Seperti biasa, jangan lupa VND 20.000,- per orang untuk masuk kedalam temple ini. Lain adat, mungkin, harga tiket masuk tidak dibedakan antara penduduk lokal dan foreigner. Namun kalau saya cermati, kelihatannya yang masuk kedalam sebagian besar foreigner, sedangkan penduduk aslinya umumnya sedang berdoa didalam.
Setelah mendapat tiket masuk, maka konon ceritanya gerbang masuk awal penuh dengan simbul-simbul ajaran Taoisme (yang baru saya mengerti dan baca setelah sampai di Surabaya).
To get to the temple, the visitor walks through the Three-Passage Gate (Tam Quan) and across the Morning Sunlight Bridge (The Huc). The entrance complex, designed by Nguyen Van Sieu, consists of a series of three gates, replete with Taoist symbolism......laaa begitu awal yang saya baca.
After crossing the bridge, we come to the fourth gate. Above this gate is a small room with circular windows, called the Moon Gazing Pavilion. Ini gambar Gerbang keempat yang ada " small room with circular windows.."
 Akhirnya bagian dalam yang ada di-pulau kecil:




Dari pelataran Ngoc Son pemandangan ke-arah danau cukup indah, termasuk Turtle Tower (Thap Rua) yang ada dikejauhan.


Mengunjungi Ha Noi dan bermalam di Old Quarter

Diluar jendela masih gelap, ketika petugas kereta api yang saya tumpangi dari kota Hue berteriak-teriak …..Hanoi…..Hanoi…….dan kereta mulai melambat kemudian berhenti. Sebenarnya sudah jam 05.00 namun garis lintang Ha Noi yang berselisih 1700 Km dari Ho Chi Minh membuat iklim di Vietnam menjadi berbeda-beda antara kota yang satu dengan yang lain.

Ho Chi Minh yang bersuhu seperti Surabaya menjadi berbeda dengan Ha Noi yang sangat dingin ditambah hujan yang kelihatannya mengguyur kota sepanjang malam. Ruang kedatangan stasiun Ha Noi kurang bersahabat dengan suhu dan kondisi yang ada, setelah melakukan orientasi saya keluar dari ruang kedatangan kemudian belok kiri dan menemukan ruang keberangkatan yang terang benderang, banyak kursi dan hangat. Saya lihat serombongan Backpacker yang tadi satu kereta dengan saya sudah antri didepan loket untuk lanjutan kereta yang entah pergi kemana lagi. Stasiun Ha Noi merupakan stasiun internasional yang menghubungkan Vietnam dengan China, sehingga pada waktu-waktu tertentu ada kereta api yang berangkat menuju China.

 Jam 07.00 saya mulai beranjak dari ruang keberangkatan ketika petugas stasiun mulai bersih-bersih lantai dengan mesin yang memekakan telinga.



Diluar stasiun, badan saya menggigil kedinginan, sehingga untuk memanaskan badan saya mulai lari menyeberang jalan yang ada di depan stasiun dan berjalan lurus mengikuti jalan besar tersebut.


Sampai akhirnya bertemu dengan sebuah cafe untuk sekedar menghangatkan badan dengan kopi khas Vietnam.

Internet di Cafe Hanh cukup cepat juga untuk browsing dan kirim email, setelah pulang ke Indonesia, saya baca, Vietnam merupakan negara Asean yang penetrasi internetnya sangat bagus. 

Kembali turun kejalan untuk melanjutkan perjalanan, sejak dari Ho Chi Minh, Da Nang, Hoi An dan Hue, baru kali ini saya bertemu dengan angkatan bersenjata Vietnam yang sedang bertugas.

Sementara dalam cuaca hujan dan suhu dingin jalanan yang saya lewati mulai ramai, terutama sepeda motor dengan pengendaranya yang mengenakan jas hujan.
 Meskipun kadang-kadang trotoar juga dilewati, tetapi begitu lampu lalu lintas menyala merah,mereka dengan tertib berhenti dibelakang garis stop. Sehingga penyeberang jalan dengan bebas dapat berjalan diatas Zebra Cross.

Dengan berpedoman pada peta, setelah melewati toko sepatu kesenangan saya sejak balita (kata mendiang ibu saya) sampai jadi embah saat ini, terlihat sebuah telaga yang diselimuti kabut pekat.
Telaga Ho Hoan Kiem dengan latar belakang Turtle Tower. Salah satu telaga yang memiliki cerita mitos tentang se-ekor kura-kura raksasa yang kemudian ternyata merupakan sebuah kebenaran. Disebelah utara danau ini terbentang daerah Backpacker yang dinamakan Old Quarer Ha Noi.


 Berbagai macam kegiatan di sekeliling telaga, mulai pasar, bank, restoran kecil sampai besar dan tempat tempat hiburan. Termasuk kesenian wayang tradisionil Vietnam juga ada disini, Water Pupet, wayang yang tempat pentasnya ada di kolam air.


 Bagi saya yang sangat penting adalah dekat dengan terminal bus angkutan umum, yang dengan biaya murah dapat berkeliling kota.


Akhirnya saya memilih sebuah hostel murah dikawasan Old Quarter yang dapat saya gunakan dengan anak saya untuk istirahat malam nanti sebelum esok melanjutkan perjalanan.







Minggu, 07 Agustus 2016

Oleh-oleh seorang Backpacker


Saya baru saja menyelesaikan perjalanan saya 21 Juli sampai 27 Juli 2016. Menuruti kata hati untuk mendarat di Singapura – Malaysia-Kamboja dan Vietnam secara marathon. Tentu saja sebagai orang yang sudah tua apa yang saya pikirkan berbeda dengan mereka yang masih muda. Saya paling tidak suka kalau ada orang yang baru pulang dari luar NKRI, saat berada di kotanya dan melihat ada sebuah kejadian lalu ber-ucap :”Wah kalau di ….. tidak seperti itu, mereka teratur….” 
atau dengan ber-ucap “ Coba kejadian ini terjadi di ….. habis nasib itu orang”. dan sebagainya yang intinya membandingkan kotanya dengan kota yang baru dilihat namun dengan hasil akhir yang kemudian menjelekkan bangsa sendiri.

Saya mencoba kembali mengingat, apa saja yang sudah saya lihat, paling mudah mungkin melihat alat angkut moda transportasi masal dan jalan yang saya lewati.
Didalam angkutan umum ada fasilitas khusus untuk mereka yang sangat membutuhkan, para lansia, ibu hamil, ibu yang sedang nggendong anak bayinya ........
Penyandang cacat dengan kursi roda mendapat ruang khusus disertai perhatian khusus juga, termasuk tombol stop bus yang ada di dua ketinggian.
Dijalan raya disisi trotoar tempat orang berjalan kaki terdapat lajur khusus, grip untuk penyandang tuna netra

Dipasar, dimana penjaja kaki lima cukup banyak, tetap ada rasa empati yang tinggi dengan tidak menutup grid penuntun tuna netra. Grid tetap dalam kondisi bebas meskipun disekelilingnya ada kursi plastik untuk mereka yang menikmati jajanan kaki lima.
Didalam bangunan publik, tidak lupa, fasilitas untuk disabilitas tetap dipenuhi, mereka juga warga negara dan juga membayar pajak.
Terus apa oleh-oleh saya .......
Apakah saya juga ikut mengumpat, seandainya saya melihat grid penuntun tuna netra ditutup oleh tenda pedagang kaki lima. Atau mengusir penumpang muda yang duduk diatas kursi dengan tanda khusus ?
Hasil dari backpacking saya adalah:
- Menuntun tuna netra yang kesulitan mencari jalan.
- Meminta ijin untuk mendorong kursi roda saat saya melihat ada penyandang disabilitas di Kampus saya
- Memberikan kursi saya di bus kota saat melihat ada ibu yang sedang mendukung anak bayinya.
Hayooo ....bagaimana dengan kalian yang baru pulang dari backpacking ? membandingkan bus kota kita dengan bus kota di Singapur ???? .... hehehehehe....
Banyak diantara kita yang tidak sabar untuk mendapatkan sesuatu, akibatnya pekerjaan antri masih merupakan sebuah budaya yang langka. Bahkan mendapatkan fasilitas by-pass didalam sebuah urutan menjadikan sebuah kebanggaan dan pantas untuk dipamerkan pada orang lain.  Saat saya harus naik sebuah bus, bus yang bersangkutan belum datang, namun peminat atau calon penumpang bus tersebut sudah berderet dengan sabar antri. Bahkan untuk membunuh waktu hampir semua yang saya lihat membaca buku atau menganggukan kepala mengikuti irama lagu yang didengarkan lewat headphone.
 Ini gambar orang antri akan naik bus lho ya, bukan orang jajan didepan kounter makanan.

Saat selesai melakukan proses imigrasi dan harus kembali naik bus ..... ya ampun ....ternyata orang yang seperti saya jumlahnya bukan puluhan tapi ratusan. Tetapi semua sabaaaaaarrrrrr antri menunggu giliran naik bus lanjutan.
Lampu kuning .....merah menyala tanda stop kendaraan dari depan lampu lalu lintas tersebut dipasang.
Ciiitttt....semua rem dibelakang garis stop yang ada dibelakang zebra cross, sehingga pejalan kaki dapat menyeberang dengan aman tanpa harus berliku berjalan diantara knalpot sepeda motor yang ada.
Saya pernah ke Bangkok, saat itu hujan, lhaa....saya melihat pemandangan yang dalam ukuran saya sangat ganjil .... yaitu banyak orang antri untuk mendapatkan urutan kesempatan naik Ojek.
Terus saat pulang dari Kuala Lumpur saya bersamaan dengan serombongan TKI yang dengan tertib antri imigrasi didepan saya. Menunggu giliran mereka selalu baris dibelakang garing kuning. tapi apa yang terjadi saat mereka tiba di Tanah Air ???? Saat antri di imigrasi Bandara Juanda, mereka berebut, uyel-uyelan sampai pihak security bandara kuwalahan mengatur mereka. Pikiran saya, .... lho lha kok tadi saat di Kuala Lumpur kok bisa antri tertib ya ?
Apa oleh-oleh saya ?
- Saya tertib antri ditempat-tempat yang harus antri.
- Saya selalu berhenti dibelakang garis putih meskipun kadang sepeda motor yang ada dibelakan saya membunyikan klakson menyuruh saya maju.
- Saya menjadi mudah menghormati hak orang lain.
Masih banyak angkutan bus kota di kota-kota di negara kita yang tidak jelas tempat berhentinya, bus dapat diberhentikan dimanapun dan penumpang juga dapat turun dimanapun. Sampai ada keluarga saya yang bilang kalau rumahnya ditepi jalan yang dilewati angkutan umum, sehingga kalau naik dan turun angkutan umum dapat tepat didepan pintu rumahnya.......hehehehehe ...keluarga saya bukan pejabat apa-apa lho.
Seneng juga ya, kalau untuk naik bus kota, naik dari depan memasukkan uang kekotak uang didekat pak Sopir, tiket keluar sesuai dengan tujuan.
 Hampir sampai tujuan, pencet bel stop bus yang banyak dipasang ditiang-tiang didalam bus. Bus tidak seketika berhenti, namun bus akan berhenti di halte yang sudah ditentukan.


 Jangan lupa, turun dari bus lewat pintu tengah yang memang ukurannya sangat lebar dibanding dengan pintu masuk. Sebab dipintu masuk calon penumpang harus antri untuk membayar.
Kalau ini saya tidak punya oleh-oleh, yang ada cuma pengamatan dan cita-cita.
Cita-cita saya begini:
Andaikata saya seorang pejabat tinggi dalam sebuah departemen atau pemerintahan atau badan yang membawahi bagian yang terkait, maka saya akan:
- Mengumpulkan para Sopir bus.
- Mengumpulkan para Kondektur bus.
- Mengumpulkan Kernet dan Makelar bus.
Semua yang terpilih dan punya pengaruh positip pada teman-temannya.
Mereka akan saya beri uang sesuai dengan take home pay mereka dalam sehari dikalikan selama mereka saya ajak dolan untuk diserahkan pada isterinya.
Lalu masing-masing saya belikan backpack, saya suruh isi dengan pakaian.
Akhirnya akan saya ajak mereka menjadi Backpacker, keliling negara-negara Asean, mau saya tunjukkan mereka kondisi per-bus-an di negara-negara tetangga dengan harapan setelah pulang mereka dapat mengubah perilaku mereka saat dijalanan.
Supaya mereka tahu, kalau bus baru jalan kalau penumpang sudah aman masuk dan bus berhenti dulu baru penumpang turun. Bukan bus jalan saat penumpang kakinya baru satu masuk bus dan penumpang didorong keluar saat ingin turun sementara bus belum berhenti betul.
Masalahnya satu ..... yaitu saya bukan apa-apa ...saya hanya BACKpacker dan bukan BAGpacker, seperti para selebritis atau orang-orang kaya kalau bepergian.
Naaahhhhh ....... paling tidak saya punya oleh-oleh ........ yang selalu ditanyakan para teman ....Mana oleh-olehnya ???