Tampilkan postingan dengan label Evaluasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Evaluasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Januari 2020

Jangan Jadi Tourist - Jadilah Traveler : Backpacker

Ternyata ajakan saya untuk tidak menjadi Tourist tapi menjadi Traveler, cukup mendapat banyak "perlawanan". Sebagian besar beralasan bahwa berwisata merupakan cara untuk ber-rekreasi, melepas stress setelah didera kepenatan kerja, mencari pemandangan baru yang dapat membuat segar dalam pemikiran ..... dan sebagainya. Sehingga untuk semua itu ya seharusnyalah dilakukan dengan enak tidak perlu bersusah payah.

Kelihatannya disinilah letak perbedaan yang mendasar. Menjadi Traveler, melakukan perjalanan bukanlah perjalanan wisata. Perjalanan yang dilakukan merupakan misi yang muncul dari dalam hati untuk melihat dan memahami apa yang ingin dikunjungi.
Rencana perjalanan yang dibuat tidak asal-asalan, saya selalu membuat rencana perjalanan sampai tiga lapis untuk mengantisipasi andaikata terjadi sesuatu yang berada diluar rencana.
Tiket penerbangan umumnya sudah saya pesan paling cepat empat bulan sebelum hari H. kadang ada juga yang sudah saya beli setahun atau sepuluh bulan sebelumnya. Waktu yang berjalan digunakan untuk mengumpulkan bekal dan mencari berbagai kemudahan yang ada di tempat tujuan. Sehingga saya selalu marah kalau ada yang mengatakan bahwa Backpacker adalah Wisatawan Bondo Nekat.
Tidak jarang saya berangkat dari 
bandara yang bukan Surabaya.
Bisa saja saya berangkat dari Jogyakarta, semata-mata karena
harga tiket dari Jogya ke tempat tu-
juan jauh lebih murah dibanding
harus berangkat dari Surabaya.
Sementara Surabaya - Jogya saya
bisa naik bus umum.
Menjadi backpacker harus benar-benar menghitung budget. Jangan-
kan berselisih Rp. 100.000,-, ber-
selisih Rp 25.000,- pun akan saya
perhitungkan. Backpacker memang
pelit, tetapi memang harus demikian.







Termasuk masalah tidur, di luar negeri budget untuk tidur tidak lebih besar dari $ 10,-
Dan itu adalah kelas Hostel yang kadang kamar mandi-nya adalah kamar mandi bersama yang letaknya agak berjauhan dengan kamar tidur.
Hostel umunya menyediakan air panas, sehingga tidak lupa, kemana-mana saya selalu membawa kopi atau teh yang gampang disedu untuk minum pagi hari.









Bisa juga tidur di kursi bandara


Urusan makan, hehehehehe......
kuliner kelas bawah....














Tidak perlu malu ....















Atau beli bungkusan dan dimakan dalam perjalanan.














Termasuk memanfaatkan yang gratisan..... hehehehe















Mencari informasi sendiri.














Selalu membaca peta supaya tidak tersesat, kalau memang tersesat toh ya jangan jauh-jauh amat lah....













Karena perhitungan budget yang ketat, maka Backpacker harus selektif dalam memilih obyek yang pantas untuk dikunjungi.
Kalau terlalu mahal dalam ukuran kantong dan urgensinya rendah, maka cukuplah "Photo Stop" saja.
Mejeng didepannya dan..... jepret..
kalau ditanya orang... "Sudah pernah
mengunjungi Legoland ?"
Jawaban saya pasti...."Sudah"
Kalau ditanya masalah apa yang ada
didalamnya....ya tersenyum saja.




Sementara para Tourist setelah mengunjungi obyek wisata naik keatas bus untuk melanjutkan perjalanan, maka saya juga melanjutkan perjalanan menuju halte pemberhentian bus umum dengan jalan kaki....

















Ber-hujan-hujan atau ber-panas-panas dalam perjalanan merupakan kebahagian lahir batin.....





 Mengunjungi tempat-tempat yang jarang dijangkau oleh para Travel Biro.


Jalan ke pasar tradisional melihat sayur yang dijual, ternyata sama dengan yang ada di pasar Simo.

Ternyata ada juga penambal ban sepeda motor bocor.


Pohon yang telah ber-usia ratusan tahun
Menikmati bangunan-bangunan bersejarah yang terkadang ada hubungannya dengan  kerajaan-kerajaan di Jawa.








Menyeberangi perbatasan antar negara di-tempat-tempat yang terpencil. Dimana bangunan imigrasinya hanya berupa kantor sederhana.


 


Melewati "No Man Land" dengan berjalan kaki untuk sampai kekantor imigrasi negara berikutnya.

River Kwae Bridge,....kisah kelam masa penjajahan Jepang dimana saudara-saudara kita diangkut ke Siam dan Birma sebagai pekerja rodi oleh penjajah Jepang untuk membangun jalan kereta api yang menembus bukit batu antara Siam dan Birma. Dari prasasti yang ada di lapangan, jembatan dengan konstruksi melengkung ini berasal dari P. Jawa

Lokomotif yang digunakan Jepang saat itu. Antara Nong Pladuk di Thailand sampai Thanbyuzayat di Myanmar sejauh 415 Km. Saat ini ada di pelataran stasiun Kanchanaburi Thailand.

Mencari artefak diantara rel yang ada, siapa tahu bisa menemukan rel kereta yang diangkut Jepang dari P. Jawa.

Sebagai kenangan, titip salam untuk teman-temanku di Vietnam. 
SELAMAT  HARI  RAYA  TAHUN  BARU  TET
25 FEBRUARI 2020


Rabu, 30 Januari 2019

Visa Umroh dan Travel Biro Perjalanan Umroh

Tidak jadi berangkat umroh bagi sebagian besar Muslim adalah aib besar, apalagi kalau mulai tetangga, kerabat sampai keluarga sudah diberi tahu ditambah dengan adanya sedikit perhelatan saat dijadwalkan akan berangkat ke Tanah Suci.

Tipu-tipu Travel Biro yang berniat mencari untung, umumnya adalah mengkambing hitamkan Kedutaan Arab Saudi dalam hal mengakomodasi permohonan visa calon jamaah umroh.
Pengalaman saya menggunakan Travel Biro Sebariz Warna Berkah yang beralamatkan di Jl. The Royal Park Residence R-22 Gunung Anyar Tambak – Surabaya ( https://sebariz.co.id/ ) , untuk pemberangkatan Jamaah Umroh tanggal 17 Desember 2018, merupakan bantahan kalau penerbitan visa umroh itu sangat lama atau berlama-lama terbitnya.
Saya menerima e-mail yang bunyinya sebagai berikut:


Asumsi saya penyerahan dokumen penting untuk perjalanan luar negeri hanya berselisih 31 hari, antara penyerahan ke Biro Perjalanan sampai hari keberangkatan, adalah mustahil.
Disamping itu kesepakatan untuk jadi berangkat dengan cara melakukan pelunasan pembayaran hanya berselisih 23 hari.
Jadi inilah alasan saya yang menurut pemikiran saya semua waktu tenggang yang di berikan oleh Sebariz tidak masuk akal.
Namun seminggu sebelum tanggal 17 Desember 2018, pihak Sebariz sudah merilis visa salah satu anggota jamaah yang sekelompok dengan saya. Hal ini membuat saya penasaran untuk ikut meng-akses web dari Kedutaan Arab Saudi. Dengan bantuan informasi dari mas Hari Mujayanto saya berhasil melakukan download visa saya.
Dibawah ini adalah berbagi informasi untuk sesama yang dapat saya sampaikan. Sehingga untuk yang akan berangkat umroh silahkan cek dulu, apakah visa kita sudah terbit?
Jangan sampai besok dijadwalkan berangkat, hari ini visa kita belum dikeluarkan oleh Kedutaan Arab Saudi. Akibatnya kita harus pulang dengan menanggung malu, bahkan yang fatal ada Travel Biro dari daerah yang menjanjikan visa dibagikan nanti di Jakarta. Sesampai di Jakarta pengurus Travel Biro tidak ada, visa juga tidak ada.

Silahkan masuk ke: https://visa.mofa.gov.sa/VisaServices/SearchVisa
akan keluar tampilan:


Klik Visa Number dari kolom isian First Value, pilih Paspor Number, kemudian isikan nomor paspor dari paspor calon jamaah umroh.
Klik Application Number dari kolom Second Value, pilih First Name, kemudian isikan nama depan seperti yang ditulis dalam paspor calon jamaah umroh.
Isikan nomor Captcha persis seperti yang ada disamping kanan kolom.


Kemudian klik Inquire.
Tunggu beberapa saat tergantung dari bandwidth internet yang kita pakai dan banyaknya orang lain yang melakukan akses pada web.
Apabila visa kita sudah di-aprove oleh pihak yang berwenang akan muncul dilayar dan silahkan di-print sebagai bukti bahwa kita sudah di-ijinkan masuk ke-Tanah Haram.
Ini adalah contoh visa saya yang saya download:


Visa yang diterbitkan oleh Kedutaan Arab Saudi saat ini tidak seperti beberapa saat yang lalu, yang lalu visa berupa stiker yang bentuknya seperti halaman depan paspor dan ditempelkan pada buku paspor kita.
Saat ini visa berupa lembaran kertas A4 yang dilengkapi dengan barcode scanner.

18 orang calon jamaah umroh yang berangkat tanggal 17 Desember 2018

Senin, 22 Oktober 2018

Saat - Saat Pesawat Terbang Membuka Pintu Keluar

Kadang kita dibuat jengkel karena sudah mengambil bagasi cabin kemudian berdiri berbaris sambil membawa tas dan berdesakan dengan penumpang lain yang tas-nya sekali-kali memukul kepala kita.. Sementara itu pintu keluar pesawat belum juga dibuka, beberapa kali Pilot memberi instruksi pada Awak Cabin .....dan pintu tetapsaja terkunci.
Ini adalah urutan sebuah prosesi saat pesawat mendekati Garbarata.......

 Dari Run-away Pesawat menuju lahan parkir dan mendekati Garbarata.

 Petugas darat mulai menuntun Pilot untuk mengarahkan Pesawat.




 Garbarata mulai berjalan mendekati pintu Pesawat.




 Sementara itu semua penunjang (mobil begasi, mobil bahan bakar dll) mulai mendekati Pesawat.


Garbarata mengunci pada pintu Pesawat. Tanda aman diberikan.
 
 Hehehehehehe..... ayo...ayooo....keluar pesawat.