Jumat, 25 Januari 2013

Berkunjung ke Melaka



Nama-nama yang ada di Melaka memiliki kesamaan yang medasar dengan nama-nama pahlawan yang saya pelajari dari Sejarah Indonesia saat saya duduk di Sekolah Dasar dan di Sekolah Menengah Pertama dulu. Apalagi sejak tahun 2008, UNESCO menetapkan Melaka dan George Town di Penang sebagai kota warisan dunia (World Heritage). Sehingga saya sangat tertarik untuk mengunjungi kota ini.









Cara paling mudah untuk mencapai Melaka setelah keluar dari Imigrasi Malaysia di LCCT adalah naik bus Transnasional. Tiket bus LCCT -  Melaka harus dibeli di dalam terminal kedatangan dalam negeri  seharga MYR 21.90, keluar dari terminal kedatangan internasional, masuk ke terminal kedatangan dalam negeri dan cari loket penjualan tiket bus Transnasional. 
Tempat loket bus Transnasional

Bus parkir diujung  jalan didepan bus-bus yang menghubungan LCCT dengan KL Sentral dan jangan terkejut kalau nanti diatas bus hampir semua penumpang adalah pasien rumah sakit. Dari penjelasan salah satu penumpang dari Bandung, kelebihan rumah sakit di Melaka dibanding dengan di NKRI adalah masalah pelayanan. Team dokter yang terus terang mengatakan jenis penyakit dan tindakan perawatan yang akan diberikan. Disamping itu dokter di Melaka tidak sombong, tidak merasa sebagai tangan kanan Tuhan (pinjem istilah penumpang bus). Yang mengejutkan saya adalah tarif berobat di Melaka lebih murah dibanding dengan rumah sakit swasta yang memberi layanan sama di Tanah Air (kok bisa ya? Tapi saya tidak tahu pasti karena kelas saya cuma pengguna Askes dari PNS). Perjalanan darat antara LCCT sampai menjelang Melaka sangat membosankan, karena bus terus melewati jalan tol yang pemandangan kiri-kanan hanya pohon sawit. Yang membedakan jalan tol di Indoneia dengan di Malaysia adalah diperbolehkannya sepeda motor untuk lewat. Ada jalur khusus untuk sepeda motor yang tiap beberapa kilometer disediakan tempat berlindung kalau hujan. Namun saya lihat hampir tidak ada sepeda motor yang lewat. Menurut informasi yang saya catat, ada beberap cara untuk menuju Melaka salah satunya adalah naik kereta api. Namun kereta api berhenti beberapa kilometer dari Melaka yaitu stasiun Tampin dan harus dilanjutkan dengan naik bus. Disamping itu tentu saja untuk yang punya dana lebih dapat mendarat di bandara nasional Batu Berendam Airport yang berjarak 10 Kilometer dari kota.  Dari iklan koran lokal, ternyata ada juga kapal dari Pakanbaru Sumatra yang langsung menghubungkan NKRI dengan Melaka, namun sangat mahal (MYR 120,-)dengan waktu berlayar mencapai 6 jam lebih.

Setelah kira-kira dua jam berada diatas bus, diluar mulai terlihat papan-papan selamat datang yang menunjukkan bus sudah hampir masuk Melaka. 
Terminal bus di Melaka

Masuk kota tidak terlihat pemandangan macet seperti di Kuala Lumpur, bus masuk terminal untuk menurunkan penumpang namun saya tidak turun di terminal bus Melaka. 
 Bagian dalam Terminal Bus Melaka, bersih.
Bus Kota warna merah dari terminal berkeliling kota.

Setelah berhenti sekitar 10 menit bus melanjutkan perjalanan masuk kota dan berhenti didepan rumah sakit yang besar, sebagai pemberhentian akhir bus Transnasional dari LCCT.
 Bus Transnasional dari LCCT berhenti dan berangkat dari tempat ini.

Kalau ingin bermalam di hotel mahal, maka disekeliling pemberhentian bus tadi cukup banyak hotel berbintang menjulang tinggi, tarif hotel rata-rata diatas RP. 700.000,-. Kalau hendak mencari hotel dengan tarif sedang, silahkan berjalan kembali menyusuri jalan dari mana tadi bus berasal (kearah kota) sampai persimpangan jalan yang ramai dan lebar. 
Ambil jalan yang kearah kanan, naaahhhhh…….masuk kearah jalan-jalan kecil yang banyak didaerah itu akan kita jumpai hotel-hotel dengan tarif dibawah Rp. 300.000,- 
Menara Taming Sari dikejauhan.

Atau untuk Traveller yang ingin murah meriah, turun di terminal bus Melaka, naik bus kota, minta turun didepan Menara Taming Sari. Tepat didepan Menara Tamping Sari ada bangunan bertingkat seperti Ruko , salah satunya adalah penginapan Backpakers (saya belum mencoba).
Becak hias didepan Taming Sari, tampak hotel Backpakers didepan.

Saat saya ke Melaka ini adalah bulan puasa, tadi saya sahur jam 02.00 di Surabaya karena harus mengejar pesawat paling pagi yang menuju LCCT Kuala Lumpur. 
Nunggu Magribh di Melaka

Waktu Magribh di Melaka adalah jam 19.25, ini merupakan pengalaman puasa yang paling panjang. Saat akan berbuka puasa di sebuah rumah makan siap saji, antrian orang yang akan pesan makananpun juga panjang. Berbeda dengan di Surabaya, dimana dibeberapa tempat disediakan takjil gratis untuk membatalkan puasa bagi musafir dan yang sok jadi musafir, di Melaka tidak saya jumpai. 

Jonker Street, tujuan wisatawan bule, kota kuno di Melaka.

Masjid bersejarah di areal  Jonker Street

Jantera untuk mengairi sawah jaman dulu

Museum, banyak saya temukan nilai sejarah yang berhubungan dengan Indonesia

Nama Hang Tuah, Hang Jebat dll....tidak asing di museum ini

Ini alat dor...dor....dooor...jaman dahulu

Gereja yang dibangun abad 18

Saran saya, untuk hari pertama kunjungan ke Melaka sebaiknya naik bus kota dulu keliling Melaka sambil mencatat obyek-obyek wisata yang akan dikunjungi. Bus kota warna merah yang saya tumpangi berkeliling kota melewati hampir semua obyek wisata di Melaka. Bilang saja dengan pak sopir (paling juga sopirnya WNI seperti penarik becak hias yang ternyata orang Blitar) kalau kita akan turun lagi di terminal bus, tarifnya cukup murah untuk bus dengan hawa sejuk (istilah bus AC di sana) dari terminal ke terminal lagi MYR 2,-

Rabu, 23 Januari 2013

Melewati Imigrasi Woodland Singapore



Beberapa kali saya berkunjung ke Singapore, namun belum pernah lewat Bandara atau pelabuhan yang menghubungkan Singapore dengan Batam. Saya ingin berbagi duka saat lewat Imigrasi Woodland sebagai bahan acuan.



Masuk Singapore lewat Johor Bahru sangat hemat dikantong sehingga setiap kali saya ke Singapore selalu lewat Johor Bahru, baik naik kereta api, bus antar negara mupun bus kota. Yang belum saya lakukan adalah naik taxi, sepeda motor atau jalan kaki, mungkin jalan kaki tidak akan di izinkan. Ini merupakan pengalaman saya dengan wajah Melayu yang berasal dari Indonesia, yang identik dengan TKI atau TKW atau pencari kerja.



Naik Kereta Api.

Meskipun ada beberapa kereta api yang berangkat dari KL Sentral menuju Singapura, saya selalu memanfaatkan kereta api yang berangkat jam 23.00 dari KL Sentral. Lumayan perjalanan malam akan menghemat ongkos hotel, hotel di Singapura mahalnya minta ampun.


Didalam perjalanan petugas kereta api akan membagikan kartu imigrasi Singapore bagi penumpang yang akan menuju Singapura.

Kartu ini harus di isi lengkap termasuk hotel atau tempat kita berada di Singapore. Salah satu teman saya masuk Singapore lewat Bandara ditolak keluar imigrasi karena tidak mencantumkan lokasi saat di Singapura.

Enaknya kalau naik kereta api, di imigrasi Johor penumpang tidak perlu turun dari kereta api. 

Petugas imigrasi akan naik diatas kereta dan memberikan tanda tangan departure disebelah cap arrival pada paspor kita. Sehingga kita tidak perlu antri panjang didepan loket imigrasi untuk mendapatkan cap keluar Malaysia. 

Setelah petugas imigrasi turun, kereta api akan melanjutkan perjalanannya menyeberangi selat menuju stasiun akhir Singapura yaitu Woodland.

Naik Bus Antar Negara.

Bus ke Singapura dari manapun umumnya mampir di Larkin, terminal bus yang ada di Johor untuk menurunkan penumpang. Berbeda dengan kalau naik kereta api, maka bus ini akan masuk ke Bangunan Sultan Iskandar, imigrasi dan Bea Cukai Johor Bahru. Semua bagasi dan barang bawaan harus dibawa turun, jangan ada yang tertinggal didalam bus. Penumpang bus harus bergegas, bahkan penumpang yang sudah biasa akan berlari-lari menuju loket imigrasi. Pada jam sibuk, meskipun loket imigrasi yang dibuka banyak, namun antrian juga cukup panjang disetiap loketnya. 
Bus antar negara yang kita tumpangi hanya akan menunggu penumpangnya paling lama 30 menit sesuai dengan perjanjian yang ditulis dibalik tiket. Sopir tidak akan menghitung jumlah penumpang yang tadi bersamanya, penumpang yang tertinggal dapat naik bus dari perusahaan yang sama atau naik bus kota dengan membayar ongkos lagi. Maka dari itu turun dari bus tidak dapat santai kecuali memang akan naik bus dari perusahaan yang sama yang akan datang kemudian.Tetapi harus di ingat, bus berikut  kadang-kadang bisa memakan waktu dua jam baru datang. Setelah mendapat stempel departure segera kembali ke tempat parkir bus. Bus menurunkan kita di tempat kedatangan dan akan parkir ditempat keberangkatan, jadi kita harus mencari bus yang kita tumpangi tadi. Bus akan berangkat menyeberangi selat dan tidak terlalu lama akan berhenti di imigrasi Singapore. Kejadian seperti di Johor Bahru akan berulang kembali di sini. Perlu diketahui bahwa di dua tempat imigrasi ini yang namanya orang keluar masuk tidak hanya puluhan atau ratusan namun ribuan. Sehingga kemungkinan lepas dari teman seperjalanan sangat besar. Apabila sampai ditinggal bus yang kita tumpangi tadi, tidak perlu menangis, gunakan bus kota saja dengan membayar SGD 1,- untuk tujuan Singapura atau MYR 1,- untuk tujuan Johor. Yang celaka tentu saja kalau kita akan menuju Kuala Lumpur atau jurusan lain di Malaysia dan sudah ditinggal oleh bus-nya. Kalau seperti ini berarti uang kita hilang dan harus ke Terminal bus Larkin di Johor Bahru untuk membeli tiket baru dengan bus baru juga.

Naik Bus Kota.

Berangkat dari terminal bus Larkin ada dua bus kota yatu SBS dan Causeway Link yang berwarna kuning menyolok. Kalau tidak salah tarip SBS lebih murah dibanding Causeway Link, karena konon kabarnya SBS itu milik pemerintah Johor. Dari sisi Singapura, bus kota akan berangkat dari Queen Street dan Stasiun Kranji. Meskipun bus kota kalau mau naik harus antri, tidak main serobot. 

Dari sisi Malaysia maupun dari sisi Singapura, saat pagi dan sore hari antrian orang yang akan naik bus kota sangat panjang. Karena disiplin antri, meskipun panjang tidak membuat orang berjubel, semua sabar menunggu gilirannya. 
Ukuran tiket bus sangat kecil, jangan sampai hilang karena bus kota begitu selesai menurunkan penumpang dipintu masuk imigrasi, bus akan pergi untuk mengambil penumpang yang sudah keluar dari pintu keluar imigrasi. Kalau tiket hilang, maka kita harus membayar ongkos lagi (di Malaysia namanya Tambang). 
Keluar dari imigrasi kita harus antri lagi dijalur bus kota yang sesuai dengan bus kota yang kita naiki tadi. Pada jam sibuk, untuk dapat naik bus kota guna melanjutkan perjalanan, baik disisi Singapura maupun disisi Malaysia dapat mencapai 2 jam. Naik bus kota memang sangat amat ribet, namun inilah travelling yang sebenarnya. Berbagai Traveller dari berbagai negara mengatakan kalau melintasi Singapura-Malaysia paling heboh, paling ribet  tetapi menyenangkan.

Di Imigrasi Woodland Singapore.

Untuk saya imigrasi Malaysia merupakan imigrasi yang ramah tamah, bahkan penuh perhatian. 

Pernah saat saya berkunjung ke Melaka, petugasnya bertanya saya sakit apa dan akan berobat di rumah sakit mana? 

Perlu diketahui, Melaka dan Penang saat ini dikembangkan oleh pemerintah untuk menjadi pusat perobatan menyaingi Singapura. 

Namun untuk imigrasi Woodland Singapura saya paling tidak suka, kalau ada skala nilai pelayanan 0 sampai 10 begitu maka imigrasi Singapura akan saya beri nilai 3 sampai 7 tergantung petugasnya. Bagi saya, nilai 10 tentu saja untuk imigrasi Republik Indonesia. 

Didalam ruang imigrasi jangan sekali-kali mengambil gambar, runyam, bisa disita oleh petugas keamanan yang wajahnya sama sekali tidak bersahabat. Dibeberapa tempat dipasang gambar kamera dan handy cam yang dicoret merah. Konon kabarnya, Johor Bahru merupakan pintu ilegal bagi kebanyakan tenaga kerja asing gelap, tetapi yang jelas petugas imigrasi Woodland memang sangat menjengkelkan. Maka dari itu saat masuk imigrasi Woodland cari petugas dengan wajah Melayu, kalau tidak ada cari wajah Cina, nah kalau sedang sial maka kita akan berhadapan dengan petugas wajah India ( jangan mencari wajah India yang seperti Sahrukhan). Memang interogasi merupakan hak mereka karena kita mau masuk kenegaranya. Dengan petugas wajah India kita harus siap mental karena akan diteror dengan berbagai hal yang belum pernah saya rasakan di imigrasi negara-negara yang sudah saya kunjungi.

-mau kemana (untuk yang baru pertama kali ke Singapura bilang saja ke pulau Sentosa).
-ada urusan apa (jawab saja holiday, biar keren)
-punya tiket balik tidak (punya, tunjukkan)
-tidur dimana (maka dari itu jangan lupa dengan nama hotel yang ditulis dikartu imigrasi).
Nah pertanyaan sara (pinjem istilah di NKRI) juga pernah saya alami: “ are you moslem?” sambil melotot.
-bawa uang berapa dollar
-punya kartu kredit apa
-di Indonesia bekerja jadi apa
-gajinya satu tahun berapa (celaka juga, kita terbiasa dengan gaji bulanan).

Teman saya diminta untuk membuka dompet dan menunjukkan jumlah uang yang dibawa diatas meja petugas imigrasi. Untung lembaran uangnya baru semua, bayangkan kalau kumel, kan malu. Menunjukkan kartu kredit minimal jenis Gold kelihatannya lebih dihargai oleh mereka. Sebaiknya jangan membawa rokok, kalau membawa, kotak rokoknya harus dibuka. Membawa dua kotak, ya dua-duanya harus dibuka. Saya melihat ada Traveller bule yang ditahan saat lewat bea cukai karena membawa rokok satu slop. Jangan membawa susu bubuk atau sebangsanya karena akan dicurigai sebagai heroin.

Selasa, 22 Januari 2013

Jalan ke Singapura


Sampai saat ini masih banyak masyarakat Indonesia yang menggunakan Singapore sebagai tujuan wisata luar negeri. Meskipun apa yang bisa kita lihat di sana tidak lagi membuat kita menjadi terkagum-kagum seperti 20 tahun yang lalu. Disamping itu untuk ukuran Rupiah ongkos hidup di Singapore sangat mahal dibanding dengan Malaysia.

Saya tidak pernah memiliki dana berlimpah untuk setiap travelling saya keluar bumi NKRI, bahkan sangat amat ngirit sekali dan penuh dengan perhitungan matematik yang melibatkan variabel lebih dari tiga ( hehe… persamaannya kompleks sekali). Dibawah ini adalah cerita saya yang sebenarnya, yang saya lakukan sendiri beberapa kali dan bukan kata orang, bahwa untuk ke Singapore lebih murah naik pesawat dari Surabaya ke LCCT Kualalumpur atau dari Jogya ke LCCT Kualalumpur dari pada terbang langsung ke Singapura atau lewat Batam yang dilanjutkan dengan kapal cepat. Meskipun bandara Solo juga menyediakan penerbangan Solo ke LCCT Kualalumpur, namun transportasi Surabaya ke bandara Adi Sumarmo Solo tidak murah, karena setelah turun bus AKAP di terminal Tirtonadi  harus dilanjutkan naik taxi. Kalau ke bandara Adisutjipto Jogya cukup sederhana, naik bus AKAP jurusan Jogyakarta dari terminal Bungurasih, pesan ke pak kondektur kalau kita turun di bandara Adisutjipto. Turun dari bus AKAP, jalan kaki sebentar sudah sampai pintu gerbang bandara Adisutjipto. Sayangnya penerbangan Jogya – LCCT Kualalumpur hanya pagi hari, sehingga kita harus naik bus AKAP ke Jogya dari Surabaya sekitar jam 23.00, supaya masuk bandara masih pagi, masih sempat cuci muka dan minum kopi atau teh panas. Dan juga lewat Jogya, pass bandara lebih murah yaitu Rp. 100.000,- per orang dibanding kalau lewat Juanda harus membayar Rp. 150.000,-
 Penerbangan Surabaya – LCCT Kualumpur kadang-kadang yang malam hari jauh lebih murah dibanding yang pagi, siang atau sore hari. Jangan takut dengan penerbangan malam hari, bandara LCCT adalah bandara 24 jam. Setelah lepas dari pemeriksaan Imigrasi, kita dapat menunggu datangnya pagi hari sambil minum kopi atau makan di McD atau tidur dikursi yang cukup banyak di teras bandara, temannya juga banyak dari berbagai bangsa di dunia. 

Namun kalau ada dana lebih, didepan bandara ada Tune Hotel untuk melepas kantuk. Tidak perlu pakai taxi, cukup jalan kaki menelusuri selasar yang memang dibangun untuk itu.
Dari bandara LCCT untuk ke kota Kualalumpur dapat naik bus yang akan menuju KL Sentral. KL Sentral adalah stasiun kereta api, stasiun komuter dan stasiun LRT yang berada di tengah kota Kualalumpur. Sebaiknya naik bus yang warnanya kuning sebab dibanding dengan yang warnanya merah taripnya terpaut MYR 1,- lebih murah. Ingat MYR 1,- lebih besar dibanding dengan uang kita Rp. 3000,- . Oh, ya, jangan membawa Rupiah ke luar NKRI, dari pada nanti sakit hati, lebih baik tukar uang di Money Changer di Surabaya. 

Setelah bus masuk KL Sentral dan turun, temukan eksalator yang naik kelantai atas, menuju ruang kedatangan dan keberangkatan yang mirip Mall. Tidak perlu kawatir, petunjuk-petunjuk dalam bahasa serumpun cukup jelas. 

Hampir semua orang bercakap Melayu, tidak perlu sok pakai bahasa Inggris, bagi yang punya hobi buang air kecil yang harus di ingat adalah Tandas dan bukan Kamar Kecil.

Lanjutan ke Singapore dapat dilakukan dengan kereta api dari KL Sentral atau bus antar negara dari Terminal Bersepadu Selatan.
Untuk naik kereta api saya sarankan yang berangkat dari KL Sentral jam 23.00 dan masuk Singapore pagi hari. 

Sehingga hari pertama kita di Kualalumpur dapat digunakan untuk jalan-jalan menikmati beberapa obyek yang petunjuk jalannya dapat diambil dari brosur wisata yang ada di bandara LCCT.

Tas dapat dititipkan di penitipan tas yang ada didepan loket tiket kereta api dilantai 3 KL Sentral. Jangan lupa membeli tiket kereta api lebih dahulu, loket buka mulai jam 07.00 pagi. Tarip paling murah ke Singapore ( Woodland CIQ ) sebesar MYR 34,- untuk pulang pergi sebaiknya membeli di disini. Sebab harga tiket untuk kereta yang sama dari Singapore ke Kualalumpur paling murah SGD 34,-. Sama 34-nya tapi untuk dirubah menjadi Rupiah artinya jadi sangat lain.
 Saat ini kereta api sesampai di Singapura hanya berhenti di Woodland CIQ dan sudah tidak lagi sampai ke stasiun Tanjung Pagar seperti dulu. Perlu diketahui Woodland CIQ tidak sama dengan Woodland MRT (di Singapura MRT sama dengan LRT di Kualalumpur, jangan menyebut  dengan istilah Monorel sebab rel-nya ada dua), jika hendak melanjutkan perjalanan dengan menggunakan MRT maka di samping kanan pintu keluar Woodland CIQ sudah siap bus kota yang memiliki tujuan berbagai macam di Singapura termasuk beberapa stasiun MRT.
 Bus ke Singapore berangkat dari Terminal Bersepadu Selatan, sebuah terminal bus besar dan modern yang membuat para sopir bus, kondektur, kernet  dan calo di NKRI kita menjadi iri hati. Untuk menuju terminal ini gunakan kereta api Komuter KTM jurusan Seremban dan turun di stasiun Bandar Tasik Selatan. Naik Komuter KTM tidak perlu takut kesasar turun, diatas pintu terdapat denah semua stasiun yang telah dilewati maupun yang akan dilewati dengan tanda nyala lampu LED disertai pengumuman yang jelas. Di Kualalumpur terminal bus cukup banyak, ada Terminal Putra, ada terminal Pudu Raya masing-masing punya tujuan sendiri-sendiri. Enaknya semua terminal bus dapat dicapai dengan mudah lewat KL Sentral ini dengan menggunakan Komuter atau MRT. Jadi kalau kita salah pilih terminal bus maka dengan cepat dapat keterminal yang lain. Dari pemberhentian Komuter KTM stasiun Bandar Tasik Selatan, ada jembatan penghubung  panjang dan terlindung yang langsung masuk ke terminal bus. Sebuah contoh kemudahan bagi para Traveller, sehingga kalau banyak pelancong  yang berkunjung kenegeri Jiran ini dari pada ke negara kita, kita tidak boleh iri. Cara yang mudah ke Singapore dengan naik bus adalah membeli tiket langsung Kualalumpur – Singapore. Untuk diketahui, Singapore tidak mempunyai terminal bus seperti di Malaysia. Sebagai contoh kalau kita memilih naik bus Transnasional, maka di Singapore bus akan berhenti disebuah lapangan luas di Lavender Street. Kalau menggunakan bus yang berasal dari travel biro, umumnya bus akan berhenti di Beach Road. Cara yang sedikit sulit namun lebih murah adalah mambeli tiket bus ke Johor. Johor adalah sebuah kota Malaysia yang berbatasan dengan Singapore. Bus akan masuk terminal Larkin yang ada di Johor (semacam Bungurasih kalau di Surabaya). 
 Kita turun dan ganti bus kota yang akan menuju Singapore. Tentu saja ini merupakan travelling yang tidak disarankan kalau kita mengajak serta anak-anak kecil, ribet sekali namun penuh tantangan dan pengalaman. Dengan cara ini kita lebih  menghemat sebab tidak harus membayar pass masuk internasional ( MYR 10,-) seperti kalau kita di bandara. 
 Tarif bus kota MYR 2,- dari Larkin Johor ke Singapura yang nanti akan menjadi SGD 2,- kalau dari Singapura ke Larkin Johor. Di Singapura bus kota ini ada yang berhenti di Queen Street  tengah kota ada yang berhenti di Kranji dekat Woodland. Saya sarankan untuk memilih tujuan Kranji, sebab bus kota berhenti didepan stasiun LRT Kranji yang dapat dengan cepat mengantar kita keseluruh penjuru Singapore. Tetapi pilihan untuk turun di Queen Street  juga tidak salah, dengan jalan kaki kita sudah dapat mencapai Bugis dimana Mall besar ada disana. Meskipun namanya bus kota tidak bisa se-enaknya berhenti didalam kota, ada halte-halte khusus pemberhentian bus kota. Kalau naik bus kota, tiket jangan sampai hilang sebab di Imigrasi Malaysia maupun di imigrasi Singapura bus yang kita tumpangi tidak menunggu kita, setelah urusan imigrasi selesai kita harus naik bus kota sejenis dengan menunjukkan tiket yang sudah kita beli tadi. (ikuti juga cerita saya tentang dukanya di Imigrasi Singapore. http://ikutsangsurya.blogspot.com/2013/01/melewati-imigrasi-woodland-singapore.html). Dengan cara seperti ini nanti saat tiba kembali di NKRI kita dapat menunjukkan keteman-teman kalau kita sudah ke Singapore satu kali dan ke Malaysia dua kali sesuai dengan stempel Imigrasi di Paspor kita……..tipu-tipu tapi tidak bohong