Senin, 14 Januari 2013

Hanoi ke Vientiane naik bus.

Bulan Pebruari 2011, saya dan anak saya ingin menjalani sendiri bagaimana rasanya naik sleeper bus dari Hanoi ke Vientiane, yang kata para Traveller disebut sebagai Jalur Neraka. Data yang saya kumpulkan dari internet tentang perjalanan menembus perbatasan Vietnam dengan Laos lewat jalan darat cukup menarik untuk dicoba. Bahkan ada laporan dari seorang Traveller wanita yang mengatakan tidak akan mengulangi lagi jalur tersebut. Sebuah pesan memberi informasi bahwa naik pesawat terbang merupakan solusi cerdas dalam menghemat waktu. Berbagai informasi tersebut membuat saya harus mencoba, sejauh mana benar dan salahnya informasi tersebut.

Di Hanoi saya bermalam di daerah Old Quarter, sebuah tempat yang bagus didekat danau Hoa Hoan Kiem. Untuk melanjutkan perjalanan saya menuju Laos, saya memesan tiket bus disalah satu agen perjalanan yang sangat banyak tersebar di jalan-jalan Old Quarter. Saya menyetujui harga yang diminta USD 26,- sehingga untuk dua orang, saya dan anak, saya membayar USD 52,- dengan jaminan jam 17.00 akan dijemput didepan agen perjalanan tersebut.
Tanggal 03 Februari 2012 sebelum jam 17.00 saya sudah bersiap didepan agen yang bersangkutan, tepat jam 17.00 saya dijemput. Namun saya melihat ini merupakan awal yang tidak baik, betul dijemput tetapi tidak dijemput dengan mobil, seorang laki-laki naik sepeda motor mengajak saya untuk mengikuti dia. Sementara saya berjalan, dia naik sepeda motor, maka untuk tidak ketinggalan saya terpaksa agak berlari, kasihan anak saya yang baru sembuh dari patah kaki terpaksa ikut berlari. Ternyata bersamaan dengan saya ada juga beberapa pemuda-pemudi Australia dan seorang Jerman yang mengikuti orang tersebut. Kami dikumpulkan didepan toko jual obat sekitar 300 meter dari agen perjalanan saya. Didepan toko penjual obat berkumpul lagi beberapa traveller, kemudian kami semua digiring kedepan hotel Elizabeth, disana telah siap mini bus. Kami semua diminta masuk kedalam mini bus, ukuran mini bus tidak cukup untuk semua penumpang, terpakasa seorang pemuda Australia harus jongkok didekat saya. Meskipun kelihatan tidak masalah, namun ini merupakan service yang tidak bagus. Tiap kali akan berdiri, karena lelah, disuruh oleh sopir mini bus untuk kembali jongkok. Kelihatannya sang sopir takut dengan polisi Hanoi yang sore itu cukup ketat mengawasi  jalan raya yang sangat amat padat. Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, mini bus sampai disebuah terminal bus. Tetapi mini bus tidak masuk kedalam terminal, namun berhenti dibelakan terminal tersebut. Kembali kita semua diterlantarkan ditepi jalan yang mulai gelap. Kejadian ini menarik perhatian polisi, akhirnya sopir yang tadi takut polisi sekarang benar-benar berurusan dengan polisi. Posisi mini bus dipotret dan sang sopir dimarahi. Agak lama kemudian pria yang tadi menjemput saya datang, sekarang kelompok kami dipisah menjadi dua. Ada kelompok dengan tujuan Luang Prabang dan kelompok dengan tujuan Vientiane.
Setelah menunggu lama kelompok saya dengan tujuan Vientiane diajak masuk terminal Nuoch Ngam, kali ini pria itu agak sopan, dia ikut berjalan sambil menuntun sepeda motornya. 

Didepan sebuah loket penjulan tiket bus kita disuruh antri, sebelumnya semua paspor dikumpulkan dan diserahkan ke petugas penjual tiket. Ternyata kelompok saya dibelikan tiket ke Vientiane seharga VND 500.000,- dengan menggunakan Sleeper Bus biasa, yaitu bus reguler yang melayani Hanoi – Vientiane.
Seperti yang saya baca dari beberapa artikel perjalanan untuk orang asing di Vietnam, ternyata benar, kelompok saya ditaruh dibagian belakang bus diatas mesin, anak saya menggunakan tempat tidur didepan dimarahi petugas bus. Dengan diberi tempat dibagian belakang, praktis saya tidak dapat mengambil gambar selama perjalanan, karena jendela samping bus kotornya bukan main. 

Jam 19.04 bus mulai meninggalkan terminal Nuoch Ngam menuju perbatasan Vietnam dengan Laos. Beberapa kali bus berhenti untuk menaikkan penumpang, akhirnya bus dengan 40 penumpang menjadi bertambah banyak, karena lorong antar tempat tidur juga menjadi tempat tidur penumpang. Kondisi ini juga terjadi di tingkat kedua bus, sehingga bagian dalam bus sudah tidak layak sebagai sebuah sleeper bus. Sepanjang jalan hujan turun, meskipun tidak deras namun karena hujan yang berkepanjangan mengakibatkan jalanan menjadi becek oleh air yang bercampur lumpur.

Jam 21.45 bus berhenti disebuah warung makan, saya sempatkan kekamar kecil untuk buang hajat yang saya tahan sejak siang. Diluar bus udara masih sangat dingin, yang disebut kamar kecil hanya berupa ruang dengan bagian bawah berlubang tanpa pintu. 
Pelataran warung makan sangat becek dan kotor akibat dari banyaknya bus dan truk yang bergantian keluar masuk untuk istirahat, tidak terlalu lama jam 22.21 bus kembali berjalan. Tanpa disadari tanggal sudah berubah, dari tanggal 03 Februari menjadi tanggal  04 Februari 2012. Karena tidak dapat melihat  keluar bus, hari sudah jam 05.30 pagi saat bus masuk perbatasan Vietnam dengan Laos. Imigrasi  Cau Treo, jangan berharap yang namanya perbatasan Vietnam – Laos seperti perbatasan Malaysia – Singapore. Perbatasan jorok penuh lumpur, dipinggiran lapangan berdiri warung dengan tulisan yang menyebut Indonesia. Agak tergugah juga rasa kebangsaan saya, ditempat seperti ini ada orang yang ingat dengan Indonesia, sementara dari ratusan pelintas batas yang saat itu ada hanya saya dan anak saya yang traveller orang Indonesia. Mayoritas pelintas batas saat itu adalah para traveller orang Australia, Eropa dan Cina baik berkelompok maupun perseorangan. Didepan loket imigrasi ada tempat penukaran uang yang dapat menukar uang dollar atau VND ke Lao Kip.

Loket Imigrasi Vietnam baru buka jam 07.00, antrian cukup amburadul dan terkesan serobot sana serobot sini terutama dari petugas travel biro yang membawa setumpuk paspor. Saya harus memasukkan paspor saya diloket pertama, dicatat dan diperiksa manual. Paspor dilempar keloket kedua, disini harus bayar (lho…) Stamp fee, waktu saya tanya kok harus bayar, jawabannya cukup menggelikan, ini kan hari Sabtu jadi anda harus bayar fee. Imigrasi Vietnam Sabtu Minggu dan hari libur dikenakan Stamp fee sebesar USD 1,- Masuk bebas bayar, keluar tambah harus bayar. Saya tidak tahu apa stamp fee juga berlaku di bandara, atau hanya di perbatasan darat.
Selesai membayar stamp fee paspor dilempar keloket ketiga, disini dilakukan scanning dan stempel exit. Semua paspor ditumpuk, baru kemudian setelah ada beberapa buah yang ditumpuk ada petugas yang membagi paspor berdasarkan foto yang ada dilembaran depan. Oleh petugas foto diperlihatkan dibalik loket dan yang merasa berhak angkat tangan untuk menerima paspor-nya. Seperti halnya kita, orang Asia, petugas imigrasi Vietnam juga tidak dapat membedakan ras Eropa, semua rupanya dianggap sama. Banyak kelucuan diloket ketiga ini karena kelihatannya petugas yang sedang membagi paspor tidak dapat membedakan wajah orang ras Eropa (semua sebutannya Londo, lha ya salahnya sendiri, paspor kok ditumpuk). Selesai ngurus paspor saya mau naik bus, oleh awak bus dilarang sambil berkata….Laos….Laos….dengan menunjuk arah kesebelah gedung imigrasi Vietnam.
Bersama rombongan yang berada dalam satu bus kami berjalan kaki, perkiraan saya perbatasan Laos berada didekat gedung Imigrasi Cau Treo. 
Ternyata dibalik gedung Imigrasi yang ada hanya lapangan luas dengan jalan becek dan licin penuh tanah liat yang dibawa oleh roda truk, bus dan kendaraan pribadi.  

Sambil mengumpat-umpat dalam bahasa Surabaya saya ikuti jalan lebar tapi jelek itu bersama orang lain. 

Ditengah perjalanan saya berpapasan dengan barisan orang banyak yang berasal dari arah Laos. 

Setelah melewati jembata Nam Tuang yang melintas diatas sebuah sungai yang dalam, baru kemudian terlihat bangunan dengan bendera PDR Laos, Imigrasi Nam Phao. 
Di loket Visa On Arrival saya mendapat keterangan kalau Indonesia bisa langsung ke loket imigrasi tanpa menggunakan formulir aplikasi dan membayar Visa On Arrival.

Alhamdulillah, menghemat dua kali USD 30,-, USD 60,- cukup banyak untuk berfoya-foya makan enak di Vientiane.
Setelah mengisi format imigrasi, bersama paspor masuk loket pertama, paspor dilempar keloket kedua. Petugas beberapa kali melihat daftar yang ada di temboknya untuk meyakinkan paspor saya, akhirnya tersenyum…Indonesia ?, paspor dilempar keloket tiga. Petugas menyodorkan kalkulator ke saya,…..lho apa lagi…katanya bebas visa…dikalkulator tertulis 17000,- Lao Kip.
Oleh petugas dijelaskan kalau Senin-Jumat harus bayar stamp fee 7000,-. Kalau Sabtu – Minggu dan hari libur jadi 17.000,- Lao Kip……ampun. Karena belum punya uang Lao Kip saya bayar USD 3,- diberi uang kembali 4000,- Lao Kip. Keluar imigrasi masih lagi diperiksa petugas yang seragamnya kedodoran dengan perut gendut, tersenyum setelah membaca paspor Indonesia….thank you…Asean…same-same (ini betul, di Vietnam tulisan same-same umum digunakan).
Karena urusan exit-permit sudah selesai saya ke kamar kecil, (lha dalah…..) seperti di Indonesia, di Laos minum harus bayar membuang hasil minum harus bayar juga, melayang lagi 2000 Lao Kip, untung ada uang kembali 4000,- Lao Kip dari petugas imigrasi. 

Jam 09.02 pintu pagar dorong Imigrasi Nam Phao Laos dibuka oleh petugas, bus yang membawa saya ke Vientiane melintasi pemeriksaan imigrasi Laos didahului bus yang warnanya merah muda. Saya heran diperbatasan ini barang bawaan penumpang tidak diperiksa, semua barang penumpang ditinggal dibagasi bus. Di imigrasi tadi tidak terdapat alat scanner untuk memeriksa barang bawaan. Jam 09.18 bus berangkat dengan berhenti beberapa kali untuk istirahat. Berbeda dengan kondisi jalan saat melintas di Vietnam yang becek, kondisi jalan disisi Laos lebih bersih namun berkelok-kelok turun tajam. 

Ditengah perjalanan,  bus warna merah muda yang tadi berangkat lebih dahulu, terlihat masuk kedalam jurang ditepi jalan. Penumpangnya duduk ditepi jalan, saya tidak tahu apakah ada korban meninggal karena posisi duduk saya tidak mungkin dengan mudah keluar bus. Mungkin karena sesama bus antar negara, sopir bus yang saya tumpangi berhenti dan beberapa awak bus berlarian menuju bus yang terguling itu. Saya hanya dapat melihat dari sela-sela kotoran yang menempel dari  kaca disebelah tempat anak saya berbaring. Lama juga bus berhenti, sementara saya tidak melihat adanya ambulans atau mobil rescue didekat tempat kecelakaan. Hanya penduduk lokal yang banyak berkerumun disekeliling jurang. Saya berhasil mengambil gambar seadanya dari bus warna merah muda tersebut, terlihat kaca jendelanya yang pecah dan posisinya yang tidak lagi tegak. Kembali bus berjalan, kelihatannya sopir agak takut juga, jalan bus terkesan lebih berhati-hati.
Hati saya agak lega, saat jam menunjukkan 16.45 dipinggir jalan ada tulisan Vientiane 80 Km. Masih 80 Kilometer lagi, baru kota Vientiane. Akhirnya jam 18.10 bus yang saya tumpangi selamat masuk dan parkir di Terminal Bus Selatan ( South Bus Terminal ) kota Vientiane. Perjalanan darat selama 25 jam 10 menit membuat pantat saya hilang dan leher saya pegal, benar-benar sebuah perjalanan yang menantang. Jarak tempuh bus setelah masuk perbatasan Laos sampai Vientiane merupakan lebar dari Negara Laos yang membentang dari timur sampai barat, sebab 25 Km lagi kearah barat sudah sampai ke sungai Mekong yang membatasi Negara Laos dengan Negara Thailand. Tidak salah 100% dan tidak benar 100% artikel yang saya kumpulkan dari internet yang ditulis oleh para Traveller pendahulu. Namun semuanya itu saya kira tergantung dari individual para Traveller, sebab setelah turun bus, minum kopi dan berjalan sebentar rasa lelah dan jenuh saya sudah hilang. Sekarang  yang terpikir hanya cara untuk menuju kota Vientiane yang masih berjarak 6 Kilometer lagi sementara matahari sudah mulai meninggalkan cakrawala, gelap, dan saya masih belum tahu Vientiane itu bagaimana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar