Minggu, 29 Desember 2019

Mengunjungi Buddha Park di Vientiane Laos

Menurut Wikipedia, …. Buddha Park atau Taman Buddha, juga juga dikenal dengan nama lokal Xieng Khuan, adalah taman patung yang terletak 22 km tenggara dari Vientiane, ibu kota Laos dan merupakan simbul kebersamaan antara Buddha dan Hindu. Dibangun di area padang rumput luas di tepi Sungai Mekong yang membatasi Laos dengan Thailand. Memandang keseberang sungai,tidak terlalu jauh, tampak jelas kota Nong Khai Thailand. Meskipun bukan candi, taman ini dapat disebut sebagai Wat Xieng Khuan, karena mengandung banyak gambar agama. Nama Xieng Khuan sendiri berarti Kota Roh.

Meskipun jauh dari pusat kota, untuk berkunjung ke Buddha Park tidak terlalu sulit karena ada bus kota yang menghubungkan kota Vientiane dengan lokasi Buddha Park. Jumlah bus kota yang melayani rute ini cukup banyak, karena disamping tujuan akhir adalah Buddha Park, bus kota ini juga berfungsi sebagai transportasi murah dari Imigrasi perbatasan Laos - Thailand menuju kota.
Terminal bus kota, Central Bus Station, Khua Din, terletak di area Pasar Pagi Talat Sao Shopping Mall. Disamping sebagai terminal bus kota juga berfungsi sebagai terminal bus internasional tujuan Nong Khai, Udhon Tani dan Khon Kaen.
Di Vientiane ada tiga terminal bus, terminal bus yang melayani transportasi menuju bagian utara Laos, umpama ke Luang Prabhang sampai beberapa kota di China adalah North Bus Terminal. Untuk tujuan bagian selatan Laos sampai Vietnam dan Kamboja adalah South Bus Terminal. Untuk bus kota dan bus tujuan Thailand adalah Central Bus Station yang ada di area Pasar Pagi ini.

 Central Bus Station, Pasar Pagi Talat Sao - Vientiane

 Situasi terminal bus campur pasar, seperti ditanah air kita, ruwet. 
Bedanya disini tidak ada anak ngamen dan pengemis.

 Nunggu bus kota nomer 14 tujuan Friendship Bridge dan Buddha Park.

 Bus Internasional ke arah Thailand juga berangkat dan datang dari terminal ini

Selain tujuan ke Udhon Tani, juga ada yang menuju Nong Khai dan yang paling jauh adalah tujuan Khon Kaen. Bus Internasional ini milik pemerintah Thailand, sehingga harga tiketnya cukup murah.

Akhirnya datang juga Bus nomor 14 dengan tujuan Friendship Bridge dan Buddha Park. Tarip jauh dekat untuk Bus nomor 14 adalah 8000 Kip.


Tujuan bus dan tarip tertera didepan kaca bus. Ongkos akan ditarik oleh Kondektur yang bertugas didalam bus dengan disertai secarik tiket. Dari beberapa bus kota yang saya tumpangi, maka Kondektur bus umumnya memahami dan dapat berbahasa Inggris.

 Tiket Bus Kota seharga 8000 Lao Kip, setara dengan Rp. 12.500,- untuk jarak 22 Km.

Bus Kota di Vientiane Laos ini hanya mau berhenti di Halte Bus yang sudah ditentukan, namun bus hanya berhenti di halte tersebut kalau ada calon penumpang yang memberhentikan bus.
Untuk perjalanan dari Talat Sao ke Buddha Park, bus hanya menurunkan penumpang yang turun di Imigrasi Friendship Bridge, kemudian bus akan langsung keluar halaman dan menuju Buddha Park.

Halte Bus Nomor 14 di halaman Imigrasi Friendship Bridge.

Setelah beberapa lama dalam perjalanan sampai juga bus didepan Buddha Park. Kondektur akan memberi tahu dan mempersilahkan penumpang untuk turun.



Sebelum masuk, seperti lazimnya disetiap tempat-tempat umum yang dikunjungi adalah membeli tiket masuk.

Saat mau beli tiket masuk di counter ini saya diminta ke conter yang ada didepannya dengan menggunakan bahasa lokal.
Inilah nasib kita, bangsa yang secara mayoritas memiliki wajah yang mirip dan hampir bersamaan. baru setelah saya katakan kalau kita ini orang Indonesia, mereka tersenyum dan memberi tiket masuk yang harganya sangat jauh berbeda dengan harga tiket yang dijual di counter depannya. Untuk foreighner harga tiket masuk Buddha Park 15.000 Kip. mau tidak mau ya harus dimaklumi sebab di Borobudur-pun harga tiket masuk untuk orang asing harganya juga jauh berbeda dengan WNI.

 Tiket masuk Buddha Park untuk Foreighner, 15000 Lao Kip. 

Sebagai sesama ASEAN saya tidak melihat Merah-Putih di daftar yang ada didepan counter. Mungkin pengunjung dari Indonesia sangat amat minim sehingga tidak perlu diperhitungkan. Selama berjalan di Laos memang saya tidak pernah berjumpa dengan Turis atau Traveller dari Indonesia. Berbeda kalau berjalan di Singapura atau Bangkok, banyak sekali berjumpa dengan teman-teman sebangsa dan setanah air.

 Denah lokasi kumpulan patung-patung yang ada hubungannya dengan Buddha.



 



 



Di area Budhha Park, ditepi Sungai Mekong, dibangun gazebo-gazebo untuk istirahat. Kebanyakan digunakan dan dimanfaatkan oleh penduduk lokal yang datang secara berkelompok dalam keluarga atau berombongan. Untuk yang punya hobi ke toilet, jangan kawatir, didalam Buddha Park, toilet gratis bisa digunakan semaunya.
Sebelum meng-akhiri kunjungan saya berkeliling mencari makanan khas yang ada didalam area ini.





Ternyata, kemanapun saya pergi di negara-negara Asean ini, makanan inilah yang saya temukan.

Ingat, meskipun ada Bus Stop, bus tetap harus dilambai untuk berhenti.


Dalam perjalanan dari Buddha Park menuju Talat Sao, bus masuk kedalam halaman Imigrasi Friendship Bridge dan berhenti agak lama untuk menunggu penumpang yang akan menuju Vientiane.

 



 Bus akan berangkat kalau sudah ada bus nomor 14 lain yang datang dan parkir dibelakangnya.






Kamis, 14 Maret 2019

Mausoleum Ho Chi Minh di Hanoi

Mausoleum merupakan bangunan berdiri bebas eksternal yang dibangun sebagai monumen yang melampirkan ruang interasi atau ruang pemakaman orang atau mendiang. Sebuah monumen tanpa peringatan adalah Cenotaph.
Mausoleum Ho Chi Minh dibangun untuk menyimpan jenazah presiden pertama Vietnam Utara, Ho Chi Minh. Jenazah Ho Chi Minh yang sudah diawetkan diletakkan di dalam, Sarkofagus kaca pada bagian utama dari bangunan ini. Monumen makam ini dibangun untuk mengenang jasa Ho Chi Minh dan supaya dia dapat menyaksikan penyatuan kembali Vietnam. Dengan mengawetkan jenazahnya, generasi berikutnya dapat terus melihat dan mengenang perjuangan Ho Chi Minh. Antrian panjang mencapai ratusan meter dapat dilihat setiap harinya di halaman depan mausoleum ini. Pengunjung yang datang dapat memberikan penghormatan selama lima menit, namun tidak diperbolehkan mengambil foto dan berbicara .... hehehehe... saya kutip dari Wikipedia. 


Pagi-pagi setelah sarapan saya check out dari hotel tempat saya menginap semalam, kembali backpack seberat 5 Kg. bertengger dipunggung saya dan berjalan menyusuri danau Hoan Kiem menuju pemberhentian Bo Ho menunggu Bus Kota 09.

Bus Kota 09 dari tepi Hoan Kiem, pemberhentian Bo Ho.

Sepi....hehehe...tapi di Hanoi tidak ada istilah "ngetem". Waktu berangkat ya berangkat.

Pemberhentian Bus Kota 09 paling dekat dengan Mausoleum.

Dekat pemberhentian Bus Kota ada komputer multi media 
yang memberikan penjelasan masalah mausoleum Ho Chi Minh.

Regulasi atau peraturan yang harus di patuhi oleh pengunjung. 
Saya sendiri sudah bawa jas hitam biar kelihatan keren dan pakai sepatu.


Situasi lingkungan mausoleum sudah tidak seperti beberapa tahun yang lalu, kelihatannya sekarang terjadi restorasi besar-besaran. Beberapa tempat yang dulu mudah dilewati sekarang ditutup. beberapa lokasi ada penjaganya.


Bangunan mausoleum ini dulu terlihat megah dari jalan besar, sekarang tidak kelihatan lagi. 
Untuk menuju bangunan ini harus melewati penjaga karena lingkungan ini sendiri sebenarnya steril. 
Mausoleum Ho Chi Minh ini dibangun untuk menyimpan jenazah presiden pertama Vietnam Utara, Ho Chi Minh. Jenazah Ho Chi Minh sendiri diawetkan seperti mumi diberi pakaian kebesaran dan dibaringkan di dalam Sarkofagus yang dibuat dari kaca diletakkan pada bagian utama dari bangunan ini. Monumen makam ini dibangun untuk mengenang jasa Ho Chi Minh dan supaya dia dapat menyaksikan penyatuan kembali Vietnam. Dengan mengawetkan jenazahnya, generasi berikutnya dapat terus melihat dan mengenang perjuangan Ho Chi Minh. Dari literatur lain yang saya baca, Ho Chi Minh sendiri menghendaki jenasahnya dibakar dan abunya ditebar di laut. Namun kelihatannya negara berkehendak lain. Setiap tahun dalam bulan tertentu, mumi Ho Chi Minh dibawa ke Rusia untuk mengalami perbaikan. Setiap hari antrian panjang mencapai ratusan meter dapat dilihat setiap harinya di halaman depan mausoleum ini. Pengunjung yang datang dapat memberikan penghormatan selama lima menit


Barisan pengunjung yang antri untuk masuk Mausoleum sangat panjang terdiri dari para pendatang, orang lokal dan murid-murid sekolah.

Antrian mulai dari halaman utama Mausoleum.

Meng-ular memenuhi halaman komplek Mausoleum


Sampai pedestarian diluar halaman komplek



Melihat panjangnya barisan dan melihat barisan yang stagnan tidak bergerak, saya putuskan untuk tidak usah ikut berkunjung melihat mumi paman Ho. Menyesal juga, karena kunjungan pertama dulu saya di suruh keluar oleh penjaga karena pakai sandal dan celana pendek.


Dihalaman komplek terdapat sebuah bangunan pertunjukan Wayang Air (Water Pupet) yang mengisahkan perjuangan Ho Chi Minh dan sebuah bangunan Museum Ho Chi Minh.


Masuk Museum-pun ngantri juga. Kebanyakan yang berkunjung adalah turis yang dipandu oleh Tour Guide Lokal. Kalau nemu penjelasan dalam bahasa Inggris, saya berhenti sebentar untuk ikut-ikut mendengarkan .... hehehehe...penjelasan gratis. Berbeda dengan Thailand, Vietnam masih belum sebagai destinasi wisata bangsa Indonesia. Mungkin karena tidak ada tempat belanja yang megah.

Ternyata tidak gratis .... beli tiket dulu VND 40.000,-










Seperti dimanapun, di jalan keluar pasti ada tempat belanja souvenir.

Didalam komplek terdapat yang disebut sebagai One Pilar Pagoda.
Sebuah Pagoda yang juga menjadi ikon kota Hanoi.


Lah.....penjual souvenir lagi...

Yang lokasinya dekat dengan bangunan Mausoleum.



Menurut cerita rakyat, suatu saat di Vietnam hujan lebat beberapa hari sehingga membuat banjir menenggelamkan rumah dan tanah penduduk.
Disela kesedihan rakyat, turun seorang dewi dari langit. Sang dewi mengenakan topi raksasa terbuat dari daun yang dijahit. Karena sangat besarnya maka topi itu mampu melindungi rakyat desa tersebut dari hujan. Sehingga kehidupan menjadi normal, pendududk dapat bekerja dan bercocok tanam.
Setelah sang dewi pergi, penduduk desa itu membangun sebuah kuil sebagai penghormatan pada sang dewi.
Suatau saat penduduk desa pergi ke hutan dan menemukan daun yang mirip dengan daun pada topi yang dikenakan sang dewi di kepalanya.
Kemudian, mereka menempelkan daun-daun itu pada kerangka bambu sehingga menjadi topi kerucut yang disebut Non La.


Non La kecil yang dibeli di toko souvenir Museum HCM. 
Sebagai catatan, Non La ini selamat sampai Jombang tanpa rusak sedikitpun..... hehehe... wong beli Caping saja kok ya di Hanoi...




Akhirnya....ayo keluar dan meneruskan perjalanan.

Backpackers Note's kali ini:
Kalau ingin berkunjung ke-sini dan ingin melihat paman Ho, datang pagi-pagi.