Senin, 27 Januari 2020

Jangan Jadi Tourist - Jadilah Traveler: Gokteik Viaduct (Bag. 3)

Dari jendela kereta tempat saya duduk arah kanan, terlihat sebuah jembatan panjang dengan pendukung baja berdiri tegak dari sebuah ngarai yang dalam ..... Gokteik Viaduct. Bangunan yang dibangun pada abad ke 18 ini menunjukkan betapa pentingnya saat itu jalan kereta api antara Lasio dan Mandalay ini. Meskipun saat ini hanya ada satu pasang rangkaian kereta api dengan gerbong lama yang secara perlahan-lahan tetap melayani trayek ini.

Belum baca cerita yang pertama, Klik disini
Belum baca cerita yang kedua, Klik disini

Artikel dari Wikipedia ini yang membuat saya tertarik mengunjungi kota ini:


The Goteik viaduct  also known as Gohteik viaduct) is a railway trestle in Nawnghkio, western Shan State, Myanmar (also known as Burma). The bridge is between the two towns of Pyin Oo Lwin, the summer capital of the former British colonial administrators of Burma, and Lashio, the principal town of northern Shan State. It is the highest bridge in Myanmar and when it was completed, the largest railway trestle in the world. It is located approximately 100 km northeast of Mandalay. 


 The bridge was constructed in 1899 by the Pennsylvania and Maryland Bridge Construction Company, and opened in 1900. The components were made by the Pennsylvania Steel Company and were shipped from the United States. The rail line was constructed to help expand the influence of the British Empire in the region. The construction project was overseen by Sir Arthur Rendel, engineer for the Burma Railway Company.

The viaduct measures 689 metres (2,260 ft) from end to end, and includes 15 towers which span 12 metres (39 ft), along with a double tower 24 metres (79 ft) long. The 15 towers support 10 deck truss spans of 37 metres (121 ft) along with six plate girder spans 18 metres (59 ft) long, and an approach span of 12 metres (39 ft). Many sources have put the height of the bridge at 250 metres (820 ft). That is supposedly a measurement to the river level as it flows underground through a tunnel at the point where it passes underneath the trestle. The true height of the bridge, as measured from the rail deck to the ground on the downstream side of the tallest tower, is 102 metres (335 ft). The cost of construction was £111,200
 


Because the line from Mandalay to Lashio is considered to be of strategic value, a diversionary route to the valley floor, featuring spectacular horseshoe curves, was built in 1976-1978, to keep trains running even if the Goteik viaduct was sabotaged. Those tracks were still visible from the viaduct in 2013, but the diversionary line has been left to the tropical vegetation since 2002








Kelihatannya sengaja atau memang takut rangkaian kereta api masuk jurang, kecepatan kereta ap[i nyaris seperti orang jalan kaki. Pelan .... sehingga memberi kesempatan pada mereka yang berminat dengan sejarah ini untuk puas melihat dan mengabadikan. Saya sendiri berkali-kali pindah tempat sehingga dapat melihat sisi kiri dan sisi kanan jembatan.




Menjelang sore, namun matahari masih bersinar terang, kereta api masuk kota yang agak besar .. Pyin Oo Lwin. Aneh dan susah untuk didengar dan diucapkan oleh lidah kita.
Sebuah kota peninggalan kolonial yang masih banyak sisa-sisa bangunannya.


Minggu, 26 Januari 2020

Jangan Jadi Tourist - Jadilah Traveler: Gokteik Viaduct (Bag. 2)

Ayo baca dulu cerita saya yang bagian ke: 1, klik disini

Akhirnya saya sampai juga di Stasiun Kereta Api yang saya tuju

Stasiun Kereta Api Hsipaw

Tampilan bangunan stasiun kereta api sangat sederhana, tidak seperti bangunan stasiun kereta api di tempat kita, walaupun didesa yang jauh dari keramaian kota.

Perkantoran yang sepi, namun situasinya bersih. Tidak ada ruang signal seperti yang layaknya di stasiun-stasiun di P. Jawa.


Hehehehehe..... sama, ada penjual yang berderet, ada buah nenas yang besar, jeruk .... samalah dengan jualan di tempat kita.

Ruang tunggu dan loket untuk membeli tiket. Namun ternyata loket itu hanya untuk penduduk Myanmar, untuk foreighner dilayani dikantor oleh pegawai yang fasih berbahasa Inggris. Untuk membeli tiket harus menunjukkan paspor, karena di tiket ditulis nomor paspor kita.

Kereta api yang lewat di stasiun ini cuma ada dua, yaitu dari Mandalay ke Lashio (disebut UP Train)  dan dari Lashio ke Mandalay (disebut Down Train). Saya tidak tahu saat stasiun sepi penumpang apa yang dilakukan oleh para pedagang ini.

Tepat waktu, kereta api yang akan saya tumpangi sudah kelihatan, para penjaja buah dan makanan berdiri menyambut kereta api yang akan masuk.

Tidak ada petugas stasiun yang menyambut kereta api, justru yang berteriak-teriak mengingatkan calon penumpang adalah para pedagang itu. tentu saja saya ya....tidak paham... mungkin..... ..............................minggir...minggir....barang keras mau lewat....

Ternyata banyak juga penduduk lokal dan traveler asing, termasuk saya. yang naik kereta, satu-satunya kereta api yang lewat menuju Mandalay ini.

Ada dua kelas jenis kereta yang ada pada rangkaian kereta api, yang murah dinamakan Ordinary Class dan yang mahal dinamakan First Class. Saya memilih kelas yang bagus supaya punggung ini merasa enak setelah semalaman diguncang bus.

Meskipun dinamakan First Class, ya jangan dibandingkan dengan kereta api sekelas Anggrek di Surabaya Pasarturi.

Kelihatannya sudah biasa, setiap penumpang membawa tas plastik yang lalu digantung dekat jendela. Sayapun juga ikutan untuk menggantung tas plastik isi roti dan air digantungan dekat jendela tempat duduk saya. Penjual bebas masuk dan menawarkan dagangannya, saya cuma tersenyum kalau ditawari .....

Pemandangan asli disepanjang jalan kereta api terus saya nikmati sambil sebentar terkantuk-kantuk. Kecepatan kereta api kira-kira maksimum 40 Km/jam disertai guncangan kereta yang kadang-kadang sangat keras.

Senang juga melihat anak-anak berlarian sambil berteriak-teriak. Saya jadi ingat waktu kecil, sebab didepan rumah saya juga rel kereta api.

Kereta api yang saya tumpangi ini sangat ramah-tamah, setiap stasiun apapun bentuknya pasti berhenti. Disetiap stasiun heran saya pasti ada pasar. Sehingga selalu terjadi proses perdagangan, barang turun dan naik gerbong kereta api.


Mendekati jembatan Gokteik (sekali lagi kalau nama ini asing, silahkan browsing di Youtube atau Google), situasi landscape menjadi berjurang, bergunung dan disana-ini terlihat bukit kapur.


Akhirnya tersembul juga diantara gunung dan jurang yang dalam, Gokteik Viaduct yang dibangun di akhir abad 18 .......

Lanjut ke Bagian 3, Klik disni