Kamis, 18 Agustus 2016

Naik Bus dari Ha Noi ke Vientiane 1


Saya dan anak saya ingin menjalani sendiri bagaimana rasanya naik sleeper bus dari Ha Noi ke Vientiane, yang kata para Traveller disebut sebagai Jalur Neraka. Data yang saya kumpulkan dari internet tentang perjalanan menembus perbatasan Vietnam dengan Laos lewat jalan darat cukup menarik untuk dicoba. Bahkan ada laporan dari seorang Traveller wanita yang mengatakan tidak akan mengulangi lagi jalur tersebut. Sebuah pesan memberi informasi bahwa naik pesawat terbang merupakan solusi cerdas dalam menghemat waktu. Berbagai informasi tersebut membuat saya harus mencoba, sejauh mana benar dan salahnya informasi tersebut.

Saya bermalam di daerah Backpacker, Old Quarter, sebuah kawasan didekat danau Hoan Kiem yang hiruk-pikuk. 
 Lokasi yang hiruk-pikuk didaerah Backpacker Old Quarter didekat danau Hoan Kiem

Danau Hoan Kiem sendiri cukup tenang dengan cuaca yang selalu sejuk

Jangan kawatir untuk yang suka ke-"belakang". Ada Kamar Kecil Portable. Diseberang ada gedung tempat pementasan wayang air, pertunjukkan tradisional yang menjadi megah dan konsumsi turis.

Untuk melanjutkan perjalanan saya menuju Laos, saya memesan tiket bus disalah satu agen perjalanan yang sangat banyak tersebar di jalan-jalan Old Quarter.

Dikawasan ini cukup banyak Travel Biro yang menawarkan wisata ke berbagai tujuan di Ha Noi bahkan diluar kawasan Ha Noi.
 
Saya masuk kebeberapa tempat yang mengiklankan dirinya menjual tiket bus dari Ha Noi menuju ke Laos. Kelihatannya yang populer tujuan Laos adalah Vientiane sebagai Ibu Kota Laos dan berbatasan dengan Thailand serta Louang Prabhang. Louang Prabhang sendiri adalah sebuah kota yang dilindungi oleh Unesco dan merupakan Kota Budaya Warisan Dunia.
Dalam bahasa Vietnam jangan harap menemukan Vientiane dan Louang Prabhang seperti ejaan yang kita kenal. Di sini yang ada Vieng Chan untuk Vientiane dan Luong Pha Bang untuk Louang Prabhang. Awalnya saya ya ngah-ngoh .... kok tidak ada Vientiane pada listing tujuan mereka. 
Akhirnya nemu juga sebuah travel biro yang memberikan harga agak "reasonable", setelah tawar menawar saya menyetujui harga yang diminta USD 26,- per-orang sehingga untuk dua orang, saya dan anak, saya membayar USD 52,- dengan jaminan jam 17.00 akan dijemput didepan agen perjalanan tersebut.

Sebelum jam 17.00 saya sudah bersiap didepan agen yang bersangkutan, dan tepat jam 17.00 saya dijemput. Pikiran saya, saya ini dijemput bus atau apa gitu, lha kok ternyata yang menjemput seorang laki-laki naik sepeda motor sambil berteriak-teriak dengan bahasa planet. Mau tidak mau ya terpaksa saya mengikuti manusia ini sambil sedikit berlari. Bagaimana tidak lha sementara saya berjalan, dia naik sepeda motor, maka untuk tidak ketinggalan saya terpaksa agak berlari, kasihan anak saya yang baru sembuh dari patah kaki terpaksa ikut berlari. Ternyata bersamaan dengan saya sudah ada beberapa pemuda-pemudi Australia dan seorang Jerman yang juga berlari mengikuti orang tersebut. Kami dikumpulkan didepan apotik, toko jual obat sekitar 300 meter dari agen perjalanan saya. Didepan apotik tersebut ternyata juga sudah berkumpul beberapa traveller laki-laki perempuan, kemudian kami semua digiring kedepan hotel Elizabeth, disana telah siap mini bus. Walaaaahhhhh....ternyata travel biro yang menjual tiket bus itu tidak lebih dari kepanjangan tangan si-orang yang naik sepeda motor ini. Makanya kok saya hanya menerima tanda terima uang saja ,...... apa nama bus-nya ya tidak ada. Kami semua diminta masuk kedalam mini bus, ukuran mini bus tidak cukup untuk semua penumpang, terpakasa seorang pemuda Australia harus jongkok didekat saya. Pemuda ini dengan rombongannya senang sekali bergurau, jadi meskipun tersiksa dia terus tertawa. Meskipun kelihatan tidak masalah, namun ini merupakan service yang tidak bagus. Pemuda yang jongkok didepan saya tadi tiap kali akan berdiri, karena lelah, disuruh oleh sopir mini bus untuk kembali jongkok. Kelihatannya sang sopir takut dengan polisi Hanoi yang sore itu cukup ketat mengawasi jalan raya yang sangat amat padat. Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, mini bus sampai disebuah terminal bus. Tetapi mini bus tidak masuk kedalam terminal, namun berhenti dibelakan terminal tersebut. Kembali kita semua diterlantarkan ditepi jalan yang mulai gelap. Kejadian ini menarik perhatian polisi, akhirnya sopir yang tadi takut polisi sekarang benar-benar berurusan dengan polisi. Posisi mini bus dipotret dan sang sopir dimarahi. Laaahhhh berangkat tidak ini ......
Agak lama kemudian pria yang tadi menjemput saya datang, sekarang kelompok kami dipisah menjadi dua. Ada kelompok dengan tujuan Luang Prabang dan kelompok dengan tujuan Vientiane. Setelah menunggu lama dan hari benar-benar gelap kelompok saya dengan tujuan Vientiane diajak masuk terminal yang ternyata terminal tersebut adalah Terminal Bus Nuoch Ngam, kali ini pria itu agak sopan, dia ikut berjalan sambil menuntun sepeda motornya.


Kami digiring dibawa ketempat penjualan tiket bus ..... paspor diminta dimasukkan ke loket .... yaaaaa..... mungkin saja tadi itu kita diterlantarkan diluar terminal karena si calo itu masih cari bus yang bisa di-negosiasi....celaka .... tapi kok ya orang banyak.
Akhirnya dapet ginian:
Tiket bus seharga VND 500.000,- atau $ 22,25.
Selanjutnya digiring masuk bus, sebelum naik kebelakang yang namanya sepatu atau sandal harus dilepas dan dimasukkan tas kresek.
Didalanm bus terjadi pertengkaran, ternyata kita tidak bisa pilih tempat. Si Calo tadi sudah hilang, kita semua sudah harus mau diatur oleh awak bus yang tidak bisa bahasa Inggris. Semua pendatang baru ini ditaruh dibelakang bus diatas mesin. Seorang Backpacker wanita sampai nangis minta tidak dicampur dengan yang laki-laki ..... akhirnya permintaannya diloloskan. Weh....apa-apaan ini .... belum berangkat sudah jadi neraka dulu. Akhirnya bus jadi penuh, belakang tempat saya ada 5 tempat tidur, didepan saya ada 3 deret tempat tidur dengan satu tingkat diatasnya. Jadi ada dua gang yang memisahkan deretan tempat tidur....lho...lha kok jendela sebelah saya buram sekali, sehingga tidak bisa melihat keluar.




Jam 19.04 bus mulai meninggalkan terminal Nuoch Ngam menuju perbatasan Vietnam dengan Laos. Beberapa kali bus berhenti untuk menaikkan penumpang diluar terminal, akhirnya bus dengan 40 penumpang menjadi bertambah banyak, karena lorong antar tempat tidur juga menjadi tempat tidur penumpang. Kondisi ini juga terjadi di tingkat kedua bus, sehingga bagian dalam bus sudah tidak layak sebagai sebuah sleeper bus. Sepanjang jalan hujan turun, meskipun tidak deras namun karena hujan yang berkepanjangan mengakibatkan jalanan menjadi becek oleh air yang bercampur lumpur.

Backpacker's Note:
Sebaiknya pergi ke Terminal Bus Nuoch Ngam dan membeli tiket bus disana. Saya yakin pasti banyak jenis pilihan bus yang dapat kita tumpangi menuju Laos.

Rabu, 17 Agustus 2016

Van Mieu Temple of Literature di Hanoi

Sebagai seorang guru dengan pekerjaan yang banyak menyangkut dengan Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, akhirnya saya sangat tertarik dengan kunjungan saya ini.
Van Mieu Temple of Literature, sebuah tempat yang menurut sejarahnya adalah Perguruan Tinggi pertama yang ada di Vietnam.

Saya berjalan menyusuri jalan yang penuh dengan orang duduk menulis (atau melukis huruf tepatnya) dengan kerumunan orang didepan dan dikiri-kanannya.
Sehingga akhirnya menemukan gerbang dengan bentuk seperti ini.
Untuk masuk, nanti dulu, perlu VND 20.000,- ..... pokoknya tidak ada yang ingin dilihat tanpa mengeluarkan beberapa lembaran uang Vietnam Dong.
Kisah yang saya dapatkan berkaitan dengan berdirinya kuil ini adalah:
"In the autumn of the year Canh Tuat, the second year of Than Vu (1070), in the 8th lunar month, during the reign of King Ly Thanh Tong, the Văn Miếu was built.
The statues of Confucius, his four bestdisciples:
Yan Hui (Nhan Uyên),
Zengzi (Tăng Sâm),
Zisi (Tử Tư), and
Mencius (Mạnh Tử),
as well as the Duke of Zhou (Chu Công), were carved and 72 other statues of Confucian scholars were painted. Ceremonies were dedicated to them in each of the four seasons. The Crown Princes studied here."

Kata Wikipedia: The first courtyard extends from the Great Portico to the Dai Trung (Đại Trung), which is flanked by two smaller gates: the Dai Tai gate (Đại Tài Môn) and the Thanh Duc gate (Thành Đức Môn)

Dan seterusnya berbagai jenis halaman didalam kuil yang memiliki makna-makna berbeda. Saya kira tidak berbeda dengan bangunan-bangunan sejarah yang ada di Tanah Air. Setiap tempat, setiap tingkat dengan makna dan maksud serta dedikasi yang berbeda. Bagaimanapun juga kita kan serumpun, jadi masalah budaya saya kira tidak jauh berbeda. Kalau tidak salah sampai ada lima jenis nama halaman didalam kuil ini.




Ini adalah pintu masuk kedalam semacam Teater, berbagai kesenian yang berhubungan dengan tempat ini dipentaskan. Ingat, seusai pentas maka mereka akan turun dan meminta sumbangan atau menjual cindera mata kepada kita yang sedang asyik nonton mereka.
Skripsi atau tugas yang harus dikerjakan oleh para kandidat ditulis di lempengan batu ini.

In 1484, the Emperor Le Thanh Tong erected 116 steles of carved blue stone turtles with elaborate motifs to honour talent and encourage study. The Turtle (Quy, 龜) is one of the nation's four holy creatures - the others are the Dragon (Long, 麟), the Unicorn (Ly, 鳳) and the Phoenix (Phượng, 龍). The turtle is a symbol of longevity and wisdom. The shape and size of the turtle changed with the passage of time.

Untung juga saat saya jadi pembimbing skripsi sudah jaman mesin ketik dilanjutkan dengan komputer. Coba kalau tugas mahsiswa saya seperti ini, jangankan sepeda motor, mobil saja susah untuk membawa pulang.
Lambang Perguruan Tinggi, burung Phunix diatas kura-kura.

Singgasana Pak Rektor, altar Chu Van An.
Berada dilokasi Halaman Kuil yang lebih dalam lagi, yaitu Halaman kuil yang ke Lima, didalam sebuah bangunan yang terletak dilantai pertama.
Sedangkan lantai yang kedua digunakan untuk menghormati para Kaisar yang juga memiliki kontribusi dalam mengembangkan perguruan tinggi ini.
Lý Thánh Tông (1023–1072), yang mendirikan kuil ini pada tahun 1070
Lý Nhân Tông (1066–1127), yang mendirikan "Imperial Academy"
Lê Thánh Tông (1442–1497), yang memerintahkan mendirikan "Batu Kura-kura" untuk menulis tugas akhir mahasiswa. 


Sebagai Perguruan tinggi, maka mahasiswa belajar antara 3 sampai 7 tahun dengan tingkatan yang selalu diadakan ujian. Ada test yang diadakan setiap bulan dan akan ada ujian empat kali setiap tahun.
Success in the exams, certified by the Ministry of Rites (Bộ Lễ, 禮部) qualified them to sit the national exam (Hội Examination - Thi Hội). Success at the Hội Examination qualified the student to sit the royal exam, the Đình Examination (Thi Đình), held at court. At this exam, the monarch himself posed the questions, responded to the candidate's answer and then ranked those who passed into different grades.


Disisi luar dibagian belakang bangunan terdapat bangunan tempat bedug dan bel besar. Bel tersebut memiliki ukuran tinggi 2,1 meter dan lebar mulutnya 0,99 meter.


Bedug-nya sendiri memiliki lebar 2,01 meter dan panjangnya 2,65 meter serta beratnya 700 Kilogram.
Setiap selesai hari raya tahun baru Vietnam yang disebut dengan Tet, maka disekeliling kuil diluar pagar akan berkumpul para Kaligraphers.
Para Kaligrapher atau Ahli tulis huruf Han, akan melukis kalimat-kalimat bijak dengan menggunakan perangkat tulis seperti yang sudah digunakan sejak ratusan tahun yang lalu.
Lembaran lukisan huruf tersebut oleh orang-orang Vietnam digunakan sebagai hiasan rumah pada hari-hari khusus mereka.

Vietnam Military History Museum di Ha Noi

Mengunjungi Museum ini, kita akan dibawa kearah bagaimana Vietnam berjuang  sehingga mendapatkan kemerdekaannya seperti saat ini. Museum yang saya kunjungi ini menurut catatan yang ada, adalah satu dari tujuh buah museum sejenis yang ada di Vietnam selatan sampai Vietnam Utara.

Museum ini terdiri dari bagian halaman, lantai satu dan lantai dua. Lantai satu memiliki tiga buah kamar.
Kamar pertama mengisahkan tentang militer Vietnam periode Hung Kings sampai Ngo Quyen sekitar tahun 938 didaerah sungai Bach Dang.
Kamar kedua mengisahkan perang Indochina pertama di Vietnam antara tahun 1858 - 1945.
Kamar ketiga bercerita tentang militer Vietnam jaman dinasti Nguyen.
Dan .... ini adalah jepretan saya di area halaman museum yang sebagian besar atau hampir semuanya merupakan bukti-bukti keterlibatan Amerika dalam perang Vietnam yang berkepanjangan itu.











hehehehehe ..... siapa mau beli komponen kapal mabur ????