Kamis, 08 September 2022

Menapakkan Kaki di Usia Senja Berharap Bersua Sahabat - Episode 2 - Menjelang berkumpul



Bagi sebagian orang, berkumpul kembali setelah berpisah berpuluh tahun adalah sebuah kebahagiaan, tertawa bersama mengenang masa lalu. Banyak kisah-kisah antar sahabat diunggah dimedia sosial yang berjanji akan bertemu kembali disebuah tempat setelah sekian banyak tahun tidak berkumpul, Tidak sedikit bagi mereka-mereka saat berkumpul kembali merupakan ajang untuk pamer kesuksesan hidup. Sehingga ada sebagian orang yang tidak mau hadir hanya karena dia merasa kalau hidupnya tidak sukses seperti teman lainnya.

Belum baca cerita saya yang episode 1 ? Silahkan Klik disini

Meskipun sudah lewat siang hari dan cenderung mendekati sore hari, namun saya merasa masih banyak waktu untuk menikmati kota Solo dengan angkutan kotanya. Turun dari bus antar kota saya masuk kedalam terminal sekedar ingin tahu perubahan yang ada setelah sekian tahun saya tidak singgah disini.

Komentar saya cuma satu,…. luar biasa ….. perubahan terminal Tirtonadi ini. Sekedar nostalgia, berpuluh tahun yang lalu hampir selama satu semester saya selalu duduk manis di terminal ini saat pagi hari menjelang Subuh. Dari Surabaya saya berangkat ke Solo sekitar jam 23.30. Sampai Tirtonadi saya kekamar kecil, cuci muka dan lain sebagainya untuk menunggu pagi naik bus Rajawali jurusan Semarang. Karena saya harus memberi tutorial pembelajaran kadang di PLN Boyolali, kadang di Gardu Induk Sutet PLN di Ungaran. Ada pengalaman lucu waktu terkantuk-kantuk selesai dari kamar kecil dan masih harus menungguy bus Rajawali masuk shelter. Saya didekati seorang laki-laki sambil berkata:”Mas, mari saya antar ke hotel sebelah, banyak pilihan, masih baru-baru.” Saya berpikir, apapula maksud orang ini, setelah telat mikir beberapa saat, saya baru “ngeh” maksudnya. Saya jawab:”Maaf dik, saya tidak punya uang”. Sambil melihat saya laki-laki itu pergi menjauh …… ampuuun.

Ada juga pengalaman lain saat memberi tutorial di Departemen Metrologi, kebetulan ada pegawai yang baru saja menerima “besluit”dari Sinuwun Raja Surakarta, Yang bersangkutan diangkat menjadi Abdi Dalem dan diberi gelar Raden. Bercerita pada saya sebelum sesi tutorial dimulai, salah satunya adalah asal mula Tengkleng. Saya jadi maklum dan mengerti apa dan bagaimana sebenarnya makanan Tengkleng itu. Berbeda jauh dengan Tengkleng-Tengkleng yang banyak dijual. Wahhhh kok jadi nglantur… 
Masuk kedalam terminal, bersih tapi sepi, beberapa Petugas berada diposnya masing-masing. Saya melihat ada gerbang yang menuju jembatan penghubung ke stasiun kereta api Solo Balapan. Jadi penumpang KA kalau mau ganti naik bus tidak perlu naik becak, cukup jalan kaki menuju Tirtonadi, demikian pula sebaliknya.

Berbekal informasi dari internet saya bergegas mencari pemberhentian bus Batik koridor 6, karena saya mau ke Solo Baru. Seorang laki-laki menghampiri dan menanyakan tujuan saya, Saya jawab mau ke Solo Baru ingin naik bus Batrik. Info dari sang lelaki itu cukup mengejutkan, katanya tidak ada itu Batik Koridor 6, pakai taxi saya saja. Lah ini dia, perjuangan dimulai, dengan mengatakan bahwa saya tetap akan naik bus Batik …… Ora ono mbah, bus Batik nyang Solo Baru iku ora ono, wis ta percaya……
Lha wong di Myanmar saja saya tidak kesasar, mosok di Solo mau kesasar.  
 
Kalau sudah biasa, turun dari bus antar kota mau ke shelter bus Batik bisa jalan seperti ibu-ibu itu, asal tidak ketahuan Satpam.
 

Setelah berhasil menemukan jalan keluar dan bebas dari provokasi pengemudi taxi saya sampai di Shelter Batik.


Bus Batik, bus ukuran sedang siap mengangkut penumpang dengan tujuan sesuai Koridor.

 

Bus dengan berbagai kombinasi cantik yang menyegarkan pandangan.

Ini dia yang membuat saya hampir jatuh terpelesat karena terkejut, sebuah Angkot maju dan berhenti di Shelter. Bukan sembarang Angkot tetapi Angkot dengan cat batik, Angkot dalam armada angkutan Batik. Lama saya ternganga melihat pemandangan ini. Inovasi transportasi apa yang sedang dijalankan oleh Pak Wali bersama Ka Dinas Perhubungannya. Saya jadi ingat bagaimana Angkot di Jombang jadi kolaps karena sepeda motor yang boleh diangsur pembeliannya. Dulu orang menunggu Angkot, sekarang Angkot mencari penumpang. Kondisi serupa terjadi juga di Surabaya. Mungkin dengan cara seperti di Solo ini, pengemudi Angkot mendapatkan penghasilan meskipun Angkotnya kosong asal berjalan sesuai koridor. Saya berharap ada kesempatan lagi ke Solo untuk sekedar omong-omong dengan mereka.......

Akhirnya bus Batik Koridor 6 warna biru jurusan Tirtonadi - Solo Baru menghampiri Shelter.

Dipintu masuk, diatas dashboard ada perangkat "Taping" eMoney. Saya melakukan taping dengan karti Brizi .... ngik.... berarti sukses akses dan saya masuk bus yang dingin dan duduk dibelakang.

Dalam perjalanan saya mengamati setiap penumpang yang masuk, ternyata tidak semua melakuikan "taping", nyelonong masuk dan duduk. Mas Pengemudi juga tidak menegur atau memberi peringatan apa-apa. Lhoooo huenak tenan.........hehehehehe.(dalam kesempatan kemudian, saya baru tahu kalau emoney saya tidak berkurang saldonya, Maturnuwun Pak Wali...maturnuwun sanget.)


Turun bus lewat tangga sederhana, tidak seperti yang saya lihat ditempat saya, ada shelter mewah tapi bis-nya tidak ada.

Hati-hati, tapi kelihatannya stabil, kok.

Kadang juga bertemu dengan sekeluarga meskipun beda warna. Tentunya karena berbeda koridor.

Dalam perjalanan saya selalu mengamati Google Map, supaya tidak salah turun, dan kelihatannya memang saya harus turun di Halte Taman.

Ternyata saya adalah orang terakhir yang melakukan check in. Selamat sore sahabat-sahabatku.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar