Selasa, 06 September 2022

Menapakkan Kaki di Usia Senja Berharap Bersua Sahabat - Episode 1 Surabaya - Solo

Bagi sebagian orang, berkumpul kembali setelah berpisah berpuluh tahun adalah sebuah kebahagiaan, tertawa bersama mengenang masa lalu. Banyak kisah-kisah antar sahabat diunggah dimedia sosial yang berjanji akan bertemu kembali disebuah tempat setelah sekian banyak tahun tidak berkumpul, Tidak sedikit bagi mereka-mereka saat berkumpul kembali merupakan ajang untuk pamer kesuksesan hidup. Sehingga ada sebagian orang yang tidak mau hadir hanya karena dia merasa kalau hidupnya tidak sukses seperti teman lainnya.
 
Kami adalah sekelompok Kakek dan Nenek, yang ditahun 1961 sampai 1964 duduk sebagai siswa-siswi SMP Negeri 1 Jombang. Kala itu menjadi siswa SMPN 1 Normalan Jombang merupakan sebuah kebanggan. Apalagi setelah diresmikan seragam harian berupa atasan warna putih dipadu dengan bawahan warna hijau. Kombinasi seragam yang serasi bagi siswi namun sedikit aneh bagi siswa. Jumlah kelas untuk angkatan 1961 ada 4 kelas, kelas a, kelas b, kelas c dan kelas d. Saya sendiri duduk dikelas 1b, naik kekelas 2b dan berakhir dikelas 3b. Untuk teman yang lain ada juga yang kelasnya terus sama, tapi ada juga yang setiap naik kelas berada dikelas yang urutan abjadnya berbeda, Saya masih ingat, saat kelas 3b, kelas saya paling jelek dan dijuluki kelas sawah. Sedangkan yang paling bagus adalah kelas 3a, karena ruangannya dilingkungi jendela kaca.
Setelah vakum selama beberapa tahun karena pandemi Covid, tahun 2022 ini dicetuskan mas Sulhan saat berbincang online di WAG, re-uni diselenggarakan dikota Solo. Saya masih ingat beberapa bulan yang lalu, saya langsung merespon setuju yang kemudian diikuti teman-teman yang lain. Keinginan untuk menyelenggarakan re-uni di Solo ternyata didukung sepenuhnya oleh "Pak Lurah" Songko Purnomo, sehingga "rencana" berubah menjadi "akan dilaksanakan".Saya tidak tahu bagaimana mas Sulhan membuat rencana menjadi matang bersama mereka-mereka yang mau berkorban demi yang lain. mbakyu Juni sebagai Host, mbakyu Piet sebagai menteri keuangan dan beberapa teman yang lain. Sementara yang seperti saya cuma duduk manis dan tepuk tangan sambil mengatakan ...setuju....bagus....hehehehe.... Akhirnya muncul tanggal keramat 23 Agustus sampai 24 Agustus 2022, cukup lama antara diumumkan dan D-Day sementara biaya yang harus dipikul bersama masih dimasukkan oven microwave biar cepat masak.
Horeeeee.... serasa bumi pelan berputar akhirnya tanggal yang dinanti tiba, berbagai cara dilakukan teman-teman untuk datang ke kota Solo,

Mbakyu Lien bersama mas Iwan berkendara mobil dari Jakarta datang ke Solo lebih awal, sehingga dapat bertemu lebih dahulu dengan Tuan Rumah Re-Uni, sebelum melanjutkan perjalanan ke Surabaya lebih dahulu untuk menjemput "yang punya uang" mbakyu Piet.
 
Hari Senin tanggal 22 mas Sulhan  lebih awal juga ke Solo menggunakan kereta api berangkat dari Jakarta.
 
 
Mas Songko, mas Darto, mas Yakoep, mbakyu Titik dan mbakyu Djuwariah menggunakan kereta api juga. Masing-masing berangkat dari Jakarta, Bandung dan Jombang. 
 
Kontingen Jombang sedang menunggu kereta api Sancaka pagi di peron stasiun Jombang. Sementara kalau saya tidak salah, cak Sigit bersama isteri juga naik kereta api Sancaka dari stasiun Surabaya Gubeng yang sedang ditunggu ini. Semoga mereka bisa bertemu dan mengadakan re-uni kecil awal diatas kereta api yang meluncur menuju Solo Balapan.....

Mas Pranowo bersama mas Soemarno berangkat dari Malang dengan mobil pribadi. Demikian juga dengan mbakyu Niniek didampingi putranya menggunakan mobil pribadi berangkat dari Jakarta. 
 

Mbakyu Piet dari Surabaya dijemput mbakyu Lien menggunakan mobil yang dibawa dari Jakarta setelah transit di Solo dan kembali ke Solo hari Senin tanggal 22 Agustus. Sedangkan mbakyu Menuk dan mbakyu Winarsih masing-masing dari Surabaya juga, tetapi saya tidak tahu, kendaraan apa yang mereka gunakan.
Saya sendiri menggunakan momen ini untuk melampiaskan keinginan saya jalan-jalan dengan naik bus umum ekonomi yang murah ( Rp. 59.000,-) dan meriah karena ada bonus melihat-lihat pemandangan jalan dan kota yang dilewati. Terakhir saya backpacking bulan Januari 2020 ke Chu Chi Vietnam, setelah itu off line takut kemnana-mana.
Dari rumah menggunakan sepeda motor, jarak antara rumah saya dengan Terminal Bus Purabaya cukup jauh. Sehingga kalau naik taxi, salah-salah tarip taxi lebih mahal dari pada harga tiket bus ke Solo. Penitipan sepeda motor di area terminal maupun disekeliling terminal cukup banyak dan aman terlindungi dari cuaca panas atau hujan. Untuk penitipan mobil, saya tidak menyarankan, karena lokasi parkir mobil tidak ada yang menggunakan perlindungan terhadap cuaca. Bagi teman Backpacker yang naik bus menuju Surabaya dan terlalu malam saat tiba di Surabayam jangan kawatir. Ruang tunggu terminal cukup representatip untuk beristirahat bagi Backpacker. Penginapan sederhana juga tersedia diluar area terminal, dengan tarif yang amat murah.
 

Saya memilih bus yang bertahun lalu selalu saya tumpangi kemanapun saya pergi. Bertahun yang lalu hampir setiap hari Rabu saya memberi tutorial di Gardu Induk Listrik Ungaran selalu naik bus ini dari Surabaya ke Solo sebelum ganti bus Solo - Semarang. Banyak orang yang apriori dengan bis ini, sebab meskipun sudah dirubah namanya, ranking kecelakaan jalan masih dipegang kejuaraannya. Saya berangkat pagi dengan harapan tengah hari sudah sampai Terminal Tirtonadi Solo.

Jam 07.30 bis yang saya tumpangi mulai bergerak berangkat meninggalkan Terminal Purabaya. Tidak seperti biasanya, bus tidak terlalu penuh, satu kursi disebelah saya masih kosong.

Ternyata tidak seperti tahun-tahun lalu, bus yang saya tumpangi konstan berada dalam kecepatan normal/ Setelah dua jam, bus baru lewat depan stasiun Jombang.

Senangnya naik bus seperti ini adalah, secara bergilir selalu naik dan turun para pengamen jalanan. Lagu-lagu yang dibawakan ada yang cukup merdu tetapi kebanyakan cuma sekedar buka mulut untuk mendapatkan uang dari penumpang bus. Yang melakukan bisnis tarik suara ini ada yang hanya tepuk tangan, ada yang membawa gitar kecil dengan senar cuma 3, ada juga yang komplit semacam oschestra jalanan. Wanita baju kuning diatas menjajakan suaranya dengan menggunakan konsep karaoke tanpa gambar.

Penjual makanan dan minuman full service  diantar sampai tempat dengan harga melawan juga cukup banyak. Bahkan bisa terjadi jumlah vendor dengan penumpang bus lebih banyak yang berjualan. Seperti kata para cendekia, rejeki tidak akan salah alamat. Namun kalau kondisinya seperti itu, rejeki bisa bingung milih yang akan dihinggapi.

Lewat kota-kota antara Surabaya sampai Solo, saya kok jadi heran dengan para pemangku kebijakan dikota-kota yang saya lewati. Untuk apa jalan yang dilewati bus harus berputar-putar sehingga membuat perjalanan bus jadi panjang dan menghabiskan waktu. Tidak jarang bus harus lewat jalan sempit yang panjang dan berliku. Sebagai contoh saat lewat kota Sragen, bus berjalan pelan karena jalan yang sempit dan banyak belokan. Belum lagi dibeberapa tempat bus diharuskan mampir di terminal yang kosong dan sepi hanya sekedar untuk membayar restribusi.

Menarik sekali perjalanan saya ini setelah selama 2 tahun duduk manis di Surabaya. Akhirnya setelah selama 7 jam cuci mata lewat kaca jendela, bus yang saya tumpangi sudah masuk Palur. Berarti sebentar lagi saya akan sampai akhir perjalanan ,,,,Terminal Tirtonadi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar