Minggu, 10 Maret 2019

Lewat Bandara Noi Bai Mengunjungi Vietnam

Pesawat dari Kuala Lumpur menuju Hanoi berangkat tepat waktu, meskipun setelah terbang lebih dari 1 jam, Pilot mengumumkan pesawat Return To Base (RTB). Perasaan saya kondisi pesawat normal-normal saja, disamping itu saya melihat sekeliling, tidak ada reaksi dari penumpang. Pikiran saya, mereka itu tidak ngerti maksud pengumuman Pilot atau RTB dianggap kejadian yang biasa. Karena memahami RTB adalah permintaan yang sangat urgent dari Pilot, maka hati saya tidak tenang. Semula yang waktu saya, saya gunakan untuk tidur sekarang saya gunakan untuk melihat sayap pesawat. Melihat kondisi sayap yang terus datar dan suara mesin yang stabil, akhirnya hati ini jadi tenang sampai pesawat kembali mendarat di KLIA 2. 

Jam 10.30 dengan nomor penerbangan yang sama akhirnya penumpang diterbangkan kembali ke Hanoi dengan mengunakan pesawat terbang pengganti.
Mendekati jam 13.00 pesawat yang saya tumpangi mendarat mulus di bandara Noi Bai – Hanoi.

Mendarat di bandara Internasional Noi Bai Hanoi.

Males jalan .....hehehehe.....

Foto sebentar sebelum masuk area Imigrasi yang dilarang membuat foto

Ini adalah kunjungan saya yang ke-dua di Hanoi dan yang ke-empat untuk kunjungan ke Vietnam. Lega juga perasaan ini, meskipun ada beberapa jadwal kunjungan lokal yang terpaksa harus meleset.


 Urusan Imigrasi cukup sederhana dan cepat, tidak ada pertanyaan dari petugas, paspor di-stempel “Arival” dengan masa kunjungan 30 hari.

Ambil uang di ATM
Karena tidak membawa bekal uang lokal, Vietnam Dong VND, maka lebih dahulu saya harus mencari mesin ATM untuk menarik sejumlah dana penunjang hidup selama di Vietnam.
Dari pengalaman yang sudah-sudah, maka yang saya cari adalah ATM dari Agri Bank. Karena Agri Bank hanya menarik fee sebesar VND 22.000,- untuk setiap transaksi sementara bank-bank lain akan menarik fee lebih besar. Saya menarik VND 3.000.000,- batas maksimum dari sekali transaksi. Uang yang keluar VND 3.000.000,- tetapi di struk yang keluar dari mesin ATM ada tambahan VND 22.000,- Maka dari itu saran saya, pikir dulu kebutuhan uang, jangan menarik sedikit-sedikit, karena berapapun yang di-ambil tetap dikenakan tambahan VND 22.000,-

Struk ATM yang dikeluarkan oleh Agri Bank. Ada tambahan VND 22.000,-

Untuk menuju lokasi ATM Agri Bank, .keluar dari pintu Custom (Bea Cukai) belok ke-arah kiri, melewati kursi-kursi tunggu penumpang, terus sampai mentok.


Ada tiga ATM, satu diantaranya adalah ATM Agri Bank. Karena ATM ini sudah popular dikalangan Backpackers, maka memerlukan kesabaran untuk menunggu orang lain yang juga akan menarik dana. Saya menggunakan kartu ATM dari salah satu bank swasta di Indonesia, yang kalau saldonya diatas Rp. 10.000.000,- maka tidak dikenakan biaya administrasi. Namun dari pengalaman yang sudah-sudah, BTN akan menarik Rp. 15.000,-, Bank Mandiri menarik Rp. 20.000,- dan Jenius BTPN menarik Rp. 25.000,- untuk setiap transaksi yang dibebankan langsung pada penagihan dalam Rupiah dicetak dibuku tabungan.
Uang VND yang keluar dari ATM tidak satu macam pecahan, tetapi berbagai macam pecahan. Pecahan paling besar adalah VND 500.000,-, sebuah nilai yang cukup besar. Sehingga untuk mendapatkan uang kecil sebagai bekal membayar bus kota, saya menukar uang Bath sisa dari kunjungan ke Thailand di Money Changer yang cukup banyak di lobi bandara. Karena Cuma THB 1.000,- saya minta pecahan uang kecil pada mbakyu yang bertugas.
Saran lagi…. kalau membawa uang asing (jangan menukar Rupiah lho..) sebaiknya ditukar di bandara jangan di-kota. Kurs paling bagus hanya ada di Money Changer bandara, baik itu Hanoi maupun Saigon.

Transportasi ke Kota.
Bandara Internasional Noi Bai ke Hanoi relative jauh, sekitar 30 Km.
Moda transportasi yang ditawarkan cukup membuat iri saya, karena di NKRI, hampir setiap bandara moda transportasinya tidak ada yang murah. Kecuali yang saya rasakan adalah Jogya, bandara Adisucipto memiliki pilihan moda transportasi murah (Trans Jogya) sampai mahal (taxi). Juga bandara Ahmad Yani Semarang ada moda transportasi murah, Trans Semarang, sayang harus berjalan agak jauh nyeberang rel kereta api.
Tarip taxi di bandara Noi Bai ini untuk ukuran saya cukup mahal.


Untuk taxi dengan 5 penumpang, paling murah per-kilo meter VND 12.500,- dan yang paling mahal VND 13.700,- belum termasuk tarip Tol.
Ada beberapa alternatif dengan menggunakan Bus Kota.


Keluar bandara jalan ke-arah kiri ...... terus sampai keluar dari teras bandara Noi Bai.


Akan bertemu dengan petunjuk seperti ini.


Bus Kota nomor 07, tujuan kota, ada juga Bus Kota nomor 17 tujuan Long Bien. saya memilih Bus Kota 07 karena sekalian ingin melihat kota Hanoi.


Interior Bus Kota nomor 07. Ibu Kondektur cukup duduk dibelakang pak Sopir.

Gia Ve: 8.000 Dong/Luot .....mungkin Ongkos 8.000 Dong per Orang....hehehehe

Tarip Bus Kota cukup murah, cuma VND 8.000,- per orang jauh-dekat. Tarip tercetak tebal dibagian kaca jendela bua. Tida ada perbedaan tarip untuk penduduk lokal maupun pendatang. Namun harus di-ingat, koper besar atau tas besar yang kita bawa kalau dilihat oleh kondektur volumenya sama dengan orang, maka akan kena tarip sebesar tarip penumpang.....

Menunggu bus kota lanjutan, turun dulu dari bus 07

Pemberhentian terakhir Bus Kota 07 adalah Cau Giay, sebuah lokasi tengah kota Hanoi. Ini adalah Hub Station, beberapa Bus Kota sambungan dapat dipilih untuk banyak tujuan di kota Hanoi.
Saya menunggu Bus Kota 09 yang menuju telaga Hoa Kiem, dimana hotel tempat saya bermalam berada. Hoa Kiem Lake kadang juga dinamakan Old Quarter, sebuah daerah luas tempat tujuan para Backpackers seluruh dunia berkumpul di Hanoi.

Bus Kota 09 masuk tepi telaga Hoa Kiem.

 Untuk Bus Kota 09 harga tiket 7.000,- Dong

Kalau ingin keliling Hanoi ada bus open deck hop on-hop off.

Tiketnya beli disini .....untuk saya cukup mahal, jadi cuma lihat dan foto didepannya saja.

Ada papan besar petunjuk lokasi.


Backpacker Note's kali ini:
1. Gunakan mesin ATM Agri Bank. Lokasi di Bandara Noi Bai, keluar dari pintu Bea Cukai (Custom) belok kiri ..... jalan terus sampai mentok.
2. Menuju kota Hanoi pakai Bus Kota saja, murah. Terminal Bus Kota, keluar pintu kedatangan, belok kiri terus.....



Senin, 04 Februari 2019

Umroh Sebuah Perjalanan Religius. Perjalanan antara Jedah - Medinah

Jam 22.00 waktu setempat, Pesawat terbang dari maskapai Scoot 787 Dream Liner dari Singapura membuka pintu-nya dilapangan terbang Jedah, King Abdul Azis.
Rombongan Travel Sebariz turun dari bus dan sampai di Imigration Hall jam 22.30.
Proses Imigrasi sampai klaim bagasi dan keluar dari gerbang pemeriksaan akhir jam 23.30 waktu setempat


Waktu sampai diluar pintu dan berjalan menuju area penjemputan, saya sempat tertawa sebab ada petugas yang memakai baju dan celana biasa, sosok yang membuat saya teringat kata-kata pak Gozali saat di bandara Juanda ..... “Nanti ada petugas yang mengatakan... cepat... cepat... cepat.... sudah biarkan saja. Jangan sampai terpisah dari rombongan, sebab memang itu tugasnya mengatakan...cepat....cepat....cepat..”

Nanti di bandara Jedah ada yang bilang....cepat....cepat....sudah biarkan saja, jangan
sampai terpisah dari rombongan, memang bisanya hanya berkata seperti itu...hehehehehe.

Tak berapa lama ada seorang laki-laki yang menghampiri rombongan Sebariz, membantu mendorong kereta yang penuh berisi koper dan mengarahkan ke sebuah bus besar.
Karena besarnya bus, maka ke-18 orang dalam rombongan semua dapat duduk didekat jendela. Lega juga, setelah sekian jam rasanya seperti dilepas oleh Sebariz sekarang ada yang menjemput dan mendampingi. Diluar gerbang bandara King Abdul Aziz, bus menepi dan berhenti, naik seorang pemuda yang dalam logat bicaranya adalah suku Madura sambil membawa setumpuk kotak berisi konsumsi hidangan makan malam. Dengan porsi yang sangat banyak dan dibagi tengah malam membuat saya cuma mampu memakan buah pisangnya. Ternyata pemuda Madura itu adalah Mutawif yang akan mendampingi dan membimbing rombongan Sebariz selama di Tanah Suci melaksanakan Ibadah Umroh.

Peta perjalanan Jedah - Medinah 415 Km dengan waktu tempuh relatif  4 - 5 jam.

Perjalanan malam hari dari Jedah menuju Medinah tidak dapat saya ceritakan, karena diluar bus yang terlihat cuma gelapnya malam.
Beberapa jam kemudian kami dibangunkan dari kelelapan tidur, diluar dalam kegelapan malam terpancar cahaya lampu gemerlap, menandakan bus masuk kesebuah kota besar...... Medinah ..... ya Allah sampai juga saya disalah satu kotaMu. Sementara konsumsi makan malam belum sempat saya makan. Jalan yang pendek-pendek dengan tikungan tajam membuat bus yang saya tumpangi agak kesulitan untuk menikung, apa lagi harus mundur-maju-belok karena kesulitan menemukan hotel tempat bermalam selama di Medinah. 


Dari sela-sela bangunan hotel yang menjulang tinggi saya melihat menara masjid Nabawi dengan jelas, berarti jarak antara hotel dengan masjidil Nabawi tidak jauh. Alhamdulillah, Travel Sebariz dengan dana yang relatif rendah sudah menempatkan jamaah-nya tidak jauh dari masjid.


Setelah beberapa saat mencari, akhirnya ketemu juga hotel yang menjadi tujuan kami.
Setelah selesai berbenah di kamar hotel, rombongan berjalan menuju masjid, menunaikan sholat Subuh. Solat pertama kali yang akan kita lakukan di Tanah Suci.



Pesan pak Gozali, .... untuk pulang jangan lupa Gate nomor 6.....hehehehe....




Kamis, 31 Januari 2019

Umroh Sebuah Perjalanan Religius ( Hari ke 1 )

Umroh saat ini merupakan pilihan bagi umat Muslim NKRI untuk berkunjung ke Tanah Suci, karena masa tunggu untuk melakukan ibadah Haji harus menunggu waktu yang lama. Akibatnya oleh beberapa pelaku bisnis travel, kondisi ini digunakan untuk mengeruk ke-untungan. Tidak sedikit pelaku bisnis travel yang melakukan tindakan tercela, menipu para jamaah-nya.

Di-pandu oleh Sebariz Warna Berkah, saya beserta rombongan yang berjumlah 18 orang melakukan perjalanan awal Surabaya – Singapore – Jedah. Sebetulnya bukan 18 orang secara utuh, sebab ada 2 keluarga besar, satu suami istri dan saya beserta satu teman yang “stand alone”. Jadi kalau dipikir cuma ada 5 peserta yang berangkat pada pagi hari ini.
Meskipun penerbangan ke Singapura baru terbang jam 09.55, saya dan rombongan sudah sejak pagi berkumpul di Terminal 2 Bandara Juanda. 


Berbeda dengan rombongan umroh yang berangkat menggunakan pesawat dari maskapai yang langsung ke Jedah atau Medinah. Rombongan yang menggunakan pesawat-pesawat ini akan berkumpul di Bandara Haji Terminal 1.
Satu jam sebelum keberangkatan, saya dan rombongan sudah antri di Imigrasi sementara koper-koper sudah di-“handling” oleh bagian darat Travel SWB. 


Karena menggunakan pesawat reguler, maka perlakuan yang diberikan sama dengan penumpang-penumpang lain yang bukan jamaah umroh.
Pesawat dari maskapai Low Cost Carrier Singapura Scoot yang dulu bernama Tiger menjadi transportasi utama bagi rombongan saya.



Penerbangan Surabaya - Singapura ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam 15 menit.




Penerbangan tepat waktu, jam 13.59 waktu Singapore sudah berada di area terminal bandara Singapura. Karena menunggu penerbangan lanjutan, maka tidak diharuskan keluar melewati Imigrasi Singapura.

Istirahat sambil menunggu penerbangan lanjutan


Selisih waktu antara Singapura dan Jedah adalah 3 jam, jadi saat pesawat berangkat dari Singapura jam 04.10 PM, di Jedah masih jam 01.10 PM. Jadi siap-siap melakukan penerbangan sekitar 9 jam dengan akibat jet-lag bagi jam-biologis tubuh.

Pesawat Scoot yang akan menuju Jedah berada di gate yang berbeda, rombongan harus pindah.

Karena jauh, harus naik Skytrain.


Akhirnya, setelah melewati pemeriksaan X-Ray, kumpul nunggu boarding.

Hehehehehe....kapal mabur-nya besar...787 Dream Liner

Membaca artikel dari Scoot di web-nya, penerbangan Singapura - Jedah memang diharapkan untuk mengangkut jamaah umroh dari berbagai negara yang transit di Singapura. Meskipun merupakan penerbangan Low Cost Carrier, pihak Scoot memberikan makan malam sederhana dan selimut bagi penumpangnya.
Nasi kuning dengan lauk sesuai selera Asia, plus beberapa makanan kecil serta ada sekantong kue. Juga ada selimut kuning yang tidak diminta kembali oleh petugas pesawat.

Alhamdulillah, akhirnya mendarat dengan selamat di Bandara King Abdul Azis Jedah. 

Lapangan terbangnya luaaasss, kelihatannya setiap pesawat yang mendarat tidak ada yang menempel di garbarata. 


Semuan pesawat terbang berada ditengah lapangan parkir dan penumpang dijemput oleh bus untuk diantar ke terminal yang sesuai. Sebab tidak semua penumpang adalah jamaah umroh, meskipun mayoritas penumpang yang saya lihat adalah rombongan jamaah umroh dari berbagai travel biro dan berbagai negara. Untuk penumpang non jamaah umroh akan diantar ke terminal kedatangan internasional, sedangkan jamaah umroh akan diantar ke terminal haji dan umroh.

Bus yang akan mengantar jamaah umroh ke Terminal Haji dan Umroh

Antri di Imigrasi Jedah, disamping pemeriksaan dokumen juga dilakukan pemotretan wajah dan rekam biometrik. Saya agak kesulitan saat rekam biometrik, karena tangan kanan saya cacat dan tiga jari saya tidak memiliki alur sidik jari. Namun pihak petugas imigrasi dengan sabar melakukan pencatatan, mungkin karena rambut saya sudah putih sehingga kasihan ...hehehehe...

Klaim begasi .....

Siap keluar terminal untuk melanjutkan perjalanan ke Medinah.......

Rabu, 30 Januari 2019

Visa Umroh dan Travel Biro Perjalanan Umroh

Tidak jadi berangkat umroh bagi sebagian besar Muslim adalah aib besar, apalagi kalau mulai tetangga, kerabat sampai keluarga sudah diberi tahu ditambah dengan adanya sedikit perhelatan saat dijadwalkan akan berangkat ke Tanah Suci.

Tipu-tipu Travel Biro yang berniat mencari untung, umumnya adalah mengkambing hitamkan Kedutaan Arab Saudi dalam hal mengakomodasi permohonan visa calon jamaah umroh.
Pengalaman saya menggunakan Travel Biro Sebariz Warna Berkah yang beralamatkan di Jl. The Royal Park Residence R-22 Gunung Anyar Tambak – Surabaya ( https://sebariz.co.id/ ) , untuk pemberangkatan Jamaah Umroh tanggal 17 Desember 2018, merupakan bantahan kalau penerbitan visa umroh itu sangat lama atau berlama-lama terbitnya.
Saya menerima e-mail yang bunyinya sebagai berikut:


Asumsi saya penyerahan dokumen penting untuk perjalanan luar negeri hanya berselisih 31 hari, antara penyerahan ke Biro Perjalanan sampai hari keberangkatan, adalah mustahil.
Disamping itu kesepakatan untuk jadi berangkat dengan cara melakukan pelunasan pembayaran hanya berselisih 23 hari.
Jadi inilah alasan saya yang menurut pemikiran saya semua waktu tenggang yang di berikan oleh Sebariz tidak masuk akal.
Namun seminggu sebelum tanggal 17 Desember 2018, pihak Sebariz sudah merilis visa salah satu anggota jamaah yang sekelompok dengan saya. Hal ini membuat saya penasaran untuk ikut meng-akses web dari Kedutaan Arab Saudi. Dengan bantuan informasi dari mas Hari Mujayanto saya berhasil melakukan download visa saya.
Dibawah ini adalah berbagi informasi untuk sesama yang dapat saya sampaikan. Sehingga untuk yang akan berangkat umroh silahkan cek dulu, apakah visa kita sudah terbit?
Jangan sampai besok dijadwalkan berangkat, hari ini visa kita belum dikeluarkan oleh Kedutaan Arab Saudi. Akibatnya kita harus pulang dengan menanggung malu, bahkan yang fatal ada Travel Biro dari daerah yang menjanjikan visa dibagikan nanti di Jakarta. Sesampai di Jakarta pengurus Travel Biro tidak ada, visa juga tidak ada.

Silahkan masuk ke: https://visa.mofa.gov.sa/VisaServices/SearchVisa
akan keluar tampilan:


Klik Visa Number dari kolom isian First Value, pilih Paspor Number, kemudian isikan nomor paspor dari paspor calon jamaah umroh.
Klik Application Number dari kolom Second Value, pilih First Name, kemudian isikan nama depan seperti yang ditulis dalam paspor calon jamaah umroh.
Isikan nomor Captcha persis seperti yang ada disamping kanan kolom.


Kemudian klik Inquire.
Tunggu beberapa saat tergantung dari bandwidth internet yang kita pakai dan banyaknya orang lain yang melakukan akses pada web.
Apabila visa kita sudah di-aprove oleh pihak yang berwenang akan muncul dilayar dan silahkan di-print sebagai bukti bahwa kita sudah di-ijinkan masuk ke-Tanah Haram.
Ini adalah contoh visa saya yang saya download:


Visa yang diterbitkan oleh Kedutaan Arab Saudi saat ini tidak seperti beberapa saat yang lalu, yang lalu visa berupa stiker yang bentuknya seperti halaman depan paspor dan ditempelkan pada buku paspor kita.
Saat ini visa berupa lembaran kertas A4 yang dilengkapi dengan barcode scanner.

18 orang calon jamaah umroh yang berangkat tanggal 17 Desember 2018